[Cerita 17] Lelaki Pendosa

foto : itsmewasabi.blogspot.com

foto : itsmewasabi.blogspot.com

Aku adalah lelaki yang di dadanya tersimpan malam. Suram sekelam bulu gagak hitam yang terbang di malam sunyi tanpa bulan. Masa lalu seperti rangkaian besi, memberati langkahku yang terseok pelan. Aku ingin berhenti, tapi tak bisa. Perjalanan mesti dilanjutkan, hingga bertemu satu pelabuhan. Yang merengkuhku dalam damai pelukan. Yang bisa membuatku lupa masa silam. Hingga saat itu tiba, aku hanya akan terus berjalan.

Lalu dalam satu tempat persinggahan, kau hadir menawarkan pelukan. Kehangatan di dadamu yang ranum menawan, yang telah disinggahi mungkin puluhan lelaki jalang. Pertemuan pertama kita di warung remang-remang tempat kulepaskan penat yang terasa menghantam. Tempat kau mengais uang. Ketika mata kita bertabrakan, satu kerling kau berikan. Aku terpana, menelan ludah dalam-dalam.

“Malam ini kau butuh kehangatan, Jantan? Akan kuberikan. Harga bisa kita bicarakan,” tawarmu tanpa ragu. Aku mengusap peluh yang meriap di kening. Nafsuku menggelegak, serupa air mendidih yang berderak. Seperti kerbau dicucuk hidungnya, aku mengikuti langkahmu menuju kamar mesum. Nikmat haram terbayang di pelupuk.

Di atas ranjang kau berbaring menggoda. Aku meneguk liur yang meliar. Tanganku bergerak menjamah dadamu yang membusung indah. Kau mengerang. Suaramu…

“Kenapa berhenti, Jantan?” kau bertanya heran. Aku terduduk di tepi ranjang. Meremas rambut begitu keras hingga beberapa helainya tercabut menyakitkan.

“Aku tak bisa,” keluhku.

“Kenapa?” kau menuntut jawaban. Sebuah pelukan kau berikan, menyentuhkan dadamu yang telanjang ke punggungku yang menghitam.

Aku berbalik, menatap manik matanya yang legam. “Aku menyimpan banyak dosa.”

Kau tertawa ringan. “Dan kau takut menambahnya dengan satu dosa lain?”

Aku bungkam, tak bertemu satu jawaban untuk pertanyaanmu yang menikam. Jawaban lain selain jawaban yang semestinya aku berikan.

“Atau kau punya rahasia lain yang tak bisa kau ungkapkan?” kau menebak begitu telak. Ya, aku punya rahasia.

Kuhela napas panjang sebelum bangkit dari tepi ranjang. Derit menyebalkan menyapa pendengaran. Tanganku meraih kemeja yang tadi kucampakkan di ujung ranjang. Kau menatapku diam-diam, dadamu masih telanjang.

“Aku pendosa. Aku penjahat.”

Kau masih menatapku tak mengerti. “Yang datang padaku biasanya bukan orang baik-baik. Apa bedanya untukku? Berceritalah, aku punya dua telinga untuk mendengarkan.”

Aku mencari kesungguhan di matamu. Kau terlihat siap mendengarkan.

“Kau tahu dosa terbesarku?” tanyaku pelan. Kuraih sebuah kursi dan duduk berhadapan.

Kau menggeleng.

“Kau mirip dengan istriku.”

Keningmu berkerut tanda tak mengerti. Apa hubungannya?

“Istri yang sangat kucintai,” sambungku. “Yang tega berkhianat. Menikamku dari belakang.”

Dadaku turun naik menata emosi yang tiba-tiba menerjang. “Kupergoki dia sedang bergumul telanjang di ranjang kami dengan seorang temanku.”

Kau hanya diam. Mungkin ceritaku pasaran, sudah sering kau dengar. Tapi kau tak berkata apa-apa.

“Kubunuh mereka berdua. Berkali-kali kutikam. Kusetubuhi mayat istriku sampai aku puas, lalu kubakar jasad mereka. Setelah itu aku pergi.”

Sekilas ketakutan berkelebat di matamu yang hitam. Tubuhmu bergerak gelisah di atas ranjang. Kau raih sejumput kain penutup data yang tadi kau buka tergesa. Melirik pintu yang terkunci, berharap bisa lari.

“Kau takut padaku?” ejekku.

Kau tak menjawab. Ya, aku ketakutan, begitu kata matamu. Aku tertawa kencang.

“Baiklah. Aku saja yang pergi,” kulemparkan lembaran uang ke ranjang dan beranjak menuju pintu. Sudah saatnya melanjutkan perjalanan. Di sini tak ada kedamaian yang kuharapkan. Di sepanjang langkahku keluar dari tempat pelacuran kukutuk Ratna. Pengkhianatannya membuatku selalu gelisah. Entah pada berapa pelukan aku telah singgah, tapi dendam padanya belum juga musnah.Semoga kau membusuk di neraka.

Iklan

27 thoughts on “[Cerita 17] Lelaki Pendosa

  1. jvtino berkata:

    bhuwaaaaangshaaaaaaadddd……
    ini keren sangaaaaaaattttttt…..
    di 1/3 awal, prosanya agak lelah, tapi terbayar lunas di setelahnya…
    ternyata, prosanya justru landasan lontar yang ditarik dalam dalam,
    jadi pas mbaca dialognya, bisa visual banget…
    keren, bang…

    • riga berkata:

      aduhh…saya melayang niiih…. 🙂 Makasih, Mas. | Sekalian nihhh, mau tanya, apakah akhir cerita ‘cukup segitu’ atau apakah jadi lebih baik jika ada yang mati ‘lagi’? Jujur, saat membuat ini aku ‘lelah’ bikin cerita yang tokohnya mati, terakhir aku buat buat cerita Hadiah Terakhir untuk Zaid, jadi di cerita ini nggak ada yang mati ‘lagi’. Tapi ada yang menganggap, akhir ceritanya kurang nendang. Gimana tuh? 🙂

      • jvtino berkata:

        kenapa harus membuat ‘korban mati’ lagi di cerita, kalau di cerita ini sudah ada ‘yang mati ketakutan’ walau hidup. 🙂 jadi, kalau pertanyaannya, harus ada yang mati lagi? aku bilang sing ngga usah… si perempuan dengan dada busung itu sudah mati ketakutan, dan ini yang bikin greget. serius 🙂

        ok, kalau mau menambahkan, coba kasi tambahan detil rasa takut yang sangat pada si dada busung ini saat dia mendengar cerita. ceritakan seolah, dia sedang merasakan jadi istrinya yang di tancap belati lalu disetubuhi saat dia sudah tidak bernyawa lagi.. ‘ceritakan ketakutannya aja, buakn ada korban lagi..

        sekali lagi, salut. dialog ini visual banget.. keren bang, keren… 🙂

    • riga berkata:

      oh iya, sebelum menulis ‘kematian Zaid’, pada cerita ‘Amba Menekan Jiwa’ tokohnya juga mati kan? Tampaknya aku bakalan jadi penulis cerita spesialis membunuh karakternya sendiri. hehehe.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s