[Small Things] Terburu-buru Awal Keliru

pangkas

sumber

Lebih dari dua bulan tidak potong rambut (terakhir potong rambut di akhir bulan Juni) bikin kepalaku terlihat makin besar dengan rambut yang menjelang gondrong. Jadi, akhir bulan September silam kuputuskan untuk pangkas.

Beberapa tempat pangkas yang kudatangi masih tutup. Mungkin masih libur Lebaran Haji. Kulajukan motor menyusuri jalan yang agak lengang. Aha! Di deretan toko di depan sebuah hotel ada tempat pangkas yang sudah buka.

Aku memarkirkan motor dan masuk ke dalam ruangan. Ada seorang remaja lelaki yang sedang potong rambut dan seorang remaja lain sedang menunggu. Tukang pangkas hanya ada satu orang. Kuraih koran dan membaca sekadarnya. Lima menit kemudian remaja yang pertama selesai dirapikan rambutnya. Remaja kedua segera beranjak ke kursi pangkas.

Dari luar tempat pangkas, seorang bapak masuk. Si pemangkas memberitahukan si lelaki yang baru masuk.

“Sebentar lagi saya tutup, Pak. Hari ini cuma sendiri. Saya belum makan dan shalat.”

Entah apa jawaban yang diberikan si Bapak, yang jelas dia ikut menunggu. Dalam hati terselip perasaan tak nyaman. Tapi saat itu belum terpikir apa yang menyebabkan perasaan itu hadir.

Si remaja kedua pun selesai digarap rambutnya. Bukannya senang karena giliranku segera tiba, aku malah merasa sedikit heran. Cepat sekali, yah? Ketika aku dipanggil, gegas kunaiki kursi pangkas dan berbaring menyamankan diri.

Si tukang pangkas meletakkan handuk kecil di bagian belakang leher sebelum menutupi bagian depan tubuhku dengan kain lebar. Tentu saja gunanya agar potongan rambut tidak menyebar ke baju dan celana. Di sini rasa tak nyaman kembali muncul. Kali ini bisa kuidentifikasi ketidaknyamanan ini disebabkan karena aku teringat bahwa handuk yang disampirkan ini bekas handuk yang dipakai remaja sebelumnya. Aku ingin protes, tapi kemudian berpikir : Ah, sudahlah. Biar cepat.

Kusebutkan model rambut yang kuinginkan. Di sini ditipiskan. Di sini juga. Di bagian atas potong hingga tinggal sekian senti supaya jika dipakaikan jel rambut masih bisa dibentuk. Si tukang pangkas manggut-manggut dan mulai bekerja.

Sudah jadi kebiasaan, setiap mulai dipangkas aku akan ‘pasrah’. Sudah kubilang mauku. Tinggal berharap si pemangkas mengerti dan mengeluarkan kemampuan terbaiknya untuk membuat penampilan kepalaku jadi terlihat ‘lebih baik’.

Aku lebih sering memejamkan mata, menghindari potongan kecil rambut mengenai mata. Seraya berharap hasilnya bagus, tentu saja. Gunting dan alat cukur bekerja. Sraat…sreet…

“Selesai,” kata si tukang pangkas. Ha? Sudah selesai? Kok cepat sekali?

Aku membuka mata dan menghela napas. Hasilnya tak seperti yang kuharapkan. Rambutku dipotong mengikuti bentuk kepala. Nyaris bulat. Membuat wajah bulatku terlihat makin bulat. Rambut di bagian atas kepala sama sekali tak bisa diapa-apakan. Tak bisa dibuat berdiri. Tak bisa disisir ke kanan-kiri. Sepertinya aku harus bertanya sebelum mulai potong rambut : Banyak waktu, Bang?

Kusodorkan uang duapuluh ribu sebagai biaya pangkas. Ketika kakiku melangkah keluar dari ruangan pangkas, sebuah niat langsung terbetik di benak.

“Aku harus beli tonik rambut, nih!”

Iklan

12 thoughts on “[Small Things] Terburu-buru Awal Keliru

  1. aulia berkata:

    memang kalau yg namanya pangkas sebaiknya ditempat yg sdh biasa, atau yg terkenal sekalian (dgn perkiraan yg kerja pasti banyak), hehe. aku biasanya menghindari waktu sibuk kalau pangkas… karena emg kalau sdh fail, betenya lama (apalagi kalau ngaca). :))))

  2. AA. Muizz berkata:

    Hahaha. Aku juga sering sebal kalau tukang potong rambutnya terburu-buru. Kemungkinan besar, hasilnya pasti jelek.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s