[Flashfiction] Sang Mantan

foto : internet

foto : internet

Sore yang menyenangkan di sebuah kafe yang nyaman. Ditemani secangkir cappucino panas yang kuseruput perlahan aku duduk menanti Cindy datang. Sebenarnya aku sudah menawarkan diri untuk menjemputnya dari tempat arisan, tapi dia menolak.

“Biar teman arisanku yang antar, Mas,” begitu katanya. Aku menurut saja.

Kulirik jam di pergelangan tangan. Cindy sudah terlambat lima menit dari waktu yang dijanjikan. Ah, tak mengapa. Namanya juga perempuan, jika sedang asyik bergosip dengan sesamanya pasti lupa waktu.

“Randiiiiii.”

Dari pintu masuk seorang perempuan berseru sambil melambaikan tangan. Dua perempuan di belakangnya ikut melambai. Bergegas mereka berjalan ke arahku. Aku ingin kabur, tapi terlambat.

“Hai ganteng! Lama nggak jumpa yah?” si centil Lena menjawil pipiku. Aku gelagapan. Aryani dan Nadya yang berdiri di sebelahnya tersenyum ceria.

Tanpa dipersilakan ketiganya mengambil kursi dan duduk mengelilingiku. “Lagi nunggu pacar ya?” goda Nadya.

“Eh.. iya,” aku menjawab kikuk. Sebuah pertanyaan terlontar dari mulutku. “Kok kalian bertiga bisa saling kenal sih?”

Tiga perempuan cantik itu terkikik pelan. “Nggak nyangka ya, Nad, Len,” cetus Aryani. Dua gadis yang lain mengangguk semangat.

“Iya,” sambung Nadya,” kok bisa ya tiga orang mantannya Randi bisa saling kenal terus sahabatan.”

“Ini gara-gara kita ikut arisan yang sama nih,” sambar Lena.

Aku menelan ludah. Persekongkolan wanita adalah salah satu hal yang paling aku takutkan. Melebihi rasa takut terdampar sendirian di hutan belantara.

“Kita-kita kenal sama Cindy kok,” ujar Aryani kalem. Aku tersentak.

“Tadi kita pamit duluan kemari. Cindy masih di tempat arisan. Ssst, Cindy lho yang cerita tentang janji kencan dengan kamu, Randi.”

Tawa mereka berderai. Wajahku memucat.

“Jadi maksud kalian kemari itu apa?”

Lena, Aryani, dan Nadya saling berpandangan penuh arti. Mereka saling mengerling, aku mencium aroma balas dendam.

“Membuat Cindy bergabung dengan kami,” bisik Lena di telingaku.

Aku mengerutkan dahi. “Maksudnya?”

Bikin dia jadi mantan kamu.”

Lalu ketiganya tertawa bersama. Aku gemetaran.

Iklan

43 thoughts on “[Flashfiction] Sang Mantan

  1. jvtino berkata:

    semacam ada yang ‘hilang’, bang…
    kejutan terhadap Randi sudah asik, tapi, ‘lalu apa..?’. hanya menghasut supaya Cindy diputusin Randi? atau, ada jebakan lain (yang belum sempat diceritakan) yang lebih ‘ngagetin’ buat Randi?
    ada yang ‘hilang’, bang… 🙂

    • riga berkata:

      ini juga kelanjutan dari ‘niat bikin cerita tanpa tokoh yang mati di dalamnya’. hehehe. jadi yah, ceritanya cukup di situ aja. sedikit komedik, tentang rencana para mantan buat menggagalkan kisah asmara si Randi. Nggak pakai sadis-sadisan. :p

  2. ade anita berkata:

    jadi inget film “first wife club” dimana para istri pertama yang merasakan sakitnya ditinggal oleh para suami membentuk sebuah club sakit hati bersama. hahahaha.. apa jadinya kalau ada group para mantan si X.. kreatif nih ceritanya… akhirnya juga lucu tanpa ada adegan sadis

  3. ranny berkata:

    dramatis tak harus bunuh2an *halaah*
    i enjoy this story… hahahahah the power of mantaaan yaak :)))) *ngakak*
    begitulah perempuan *apa sihhhh*

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s