[Berani Cerita #37] Hadiah Terakhir untuk Zaid

fitrian.net

fitrian.net

Dinah menatap hampa pada foto anak kesayangannya yang tergantung di dinding kamar. Wajah bocah manis yang tersenyum membuat hatinya gerimis. Dinah mengusap matanya yang bengkak. Kembali, dia menangis tanpa suara. Dia begitu rindu pada Zaid.

Dinah meraih sebuah sarung tenun halus bermotif kotak kecil dari atas meja rias . Sedikit noda lumpur terdapat di bagian luar sarung. Benda itu sedianya akan dipakai Zaid saat pesta sunat rasul minggu depan. Bukan pesta sunat untuk Zaid sebenarnya, Zaid hanya nebeng acara anak tetangga.

“Beneran, Mak, ayahnya Robin izinin aku disunat bareng?” wajah polos itu berbinar. Ketampanan membayang pada parasnya.

Dinah mengangguk. “Zaid boleh duduk di pelaminan, jadi pengantin sunat sama si Robin.”

Sejenak kilas keraguan muncul di mata bening Zaid. “Memangnya Mamak punya duit buat bayarin pesta?”

Dinah tersenyum miris. “Nggak, Id. Mamak cuma bayar biaya mantri aja. Kamu ikutan disunat dan duduk di pelaminan biar nanti ada foto kamu pakai baju bagus.”

“Asyiiik! Nanti Zaid nggak diejekin lagi karena udah besar tapi belum sunat,” bocah berambut lurus itu berseru riang.

“Lihat, Mamak sudah belikan sarung buat Zaid pakai di pelaminan, nanti bajunya kita sewa,” Dinah mengedip. Zaid kian bungah.

“Bagusnya! Makasih, Mak,” Zaid mencium tangan ibunya.“Zaid pergi ngamen dulu, Mak, sebentar lagi Bang Roy jemput,” sambungnya. Dinah berpesan singkat, “Hati-hati ya, Id.”

***

Dinah berharap waktu bisa diputar ulang. Tak cuma kembali pada saat Zaid akan pergi, tetapi saat pertama kali dia mengenal Roy, remaja kampung sebelah. Roy yang pernah berjanji menjaga Zaid seperti adik sendiri.

“Tenang, Bu Dinah, Zaid biar aku yang jagain,” kata Roy kala itu. Dinah merasa hatinya lebih tenang.

Tapi sungguh Dinah tak menyangka, orang yang dikiranya akan membantu menjaga Zaid justru berlaku sebaliknya. Penipu pula!

“Aku nggak ketemu Zaid hari ini, Bu,” elak Roy ketika menjelang malam Dinah menemuinya. Matanya berputar cepat, jemarinya gemetar.

“Tapi Zaid bilang kamu akan jemput dia lalu pergi ngamen bareng, Roy!” Dinah meradang.

“Mana aku tahu? Bisa aja Zaid bohong,” kelit Roy lalu gegas berlalu.

“Zaid nggak pernah bohong!”

Dinah pergi ke perempatan Jalan Sudirman tempat Zaid biasa mengais rupiah. Bertanya pada setiap bocah pengamen, pengasong, bahkan polisi pengatur jalan. Tak seorangpun melihat Zaid hari ini. Setelah lelah bertanya, Dinah memilih pulang.

Di rumahnya tetangga sudah menyemut. Wajah-wajah prihatin menyambutnya. Kecemasan Dinah kian meninggi.

“Sabar, Dinah. Ini cobaan,” Riri tetangga sebelah rumah segera memeluk Dinah sambil menangis.

Dinah histeris sekaligus bingung. “Ada apa?! Mana Zaid?!”

Gegas Dinah masuk ke dalam rumah. Di ruang tengah dia temukan Zaid telah terbujur kaku. Tubuhnya diselimuti kain panjang. Dinah meraung.

“Kenapa anakkuuu? Kenapaa?”

“Roy…”

Dinah membalikkan badannya. “Kenapa dengan Roy?” tukasnya tajam. Airmatanya mengalir deras.

Riri menghela napas. “Roy ingin merebut sarung tenun yang diperlihatkan Zaid padanya. Zaid berkelit tapi malang dia terjatuh dan kepalanya berdarah membentur batu. Roy ketakutan dan menyembunyikan tubuh Zaid di semak-semak, lalu kabur. Bisa saja saat itu Zaid masih hidup kalau cepat dibawa ke rumah sakit. Tapi….”

Dinah tak lagi mendengar. Dia menjerit-jerit memanggil nama Zaid. Dia tak percaya, harus kehilangan anak kesayangannya semata-mata karena selembar kain.

496 kata

https://dl.dropboxusercontent.com/u/38695002/BeraniCerita/banner-BC%2337.png

Iklan

16 thoughts on “[Berani Cerita #37] Hadiah Terakhir untuk Zaid

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s