[Cerita Pendek] Rindu Ayah

foto : julaxalay.blogspot.com

foto : julaxalay.blogspot.com

Kamar kos, 00.15 WIB

Di ruangan 3 x 4 meter persegi ini aku dan seorang teman tinggal. Isi kamar laiknya kamar anak kos, hanya ada sebuah meja belajar serta lemari kayu yang kami letakkan di sudut, persis berhadapan dengan ranjang susun. Duduk di kursi lipat, aku sedang pusing menghadapi tumpukan kertas catatan kuliah yang akan di ujiankan besok. Kebiasaan buruk anak kuliah rupanya juga menghinggapiku ; SKS alias Sistem Kebut Semalam. Teman sekamar sedang mencuci di belakang. Entahlah mengapa ia memilih mencuci tengah malam, mungkin agar besok tidak harus mencuci pagi-pagi saat penghuni kos lainnya berebut menggunakan kamar mandi. Supaya bisa pergi bekerja lebih tenang, barangkali. Persis di depan kamar mandi, berjarak sekitar 5 meter terletak sebuah dapur kecil. Pintu dapur tidak pernah dikunci. Toh selain tidak ada barang yang terlalu berharga, letaknya juga ‘aman’ diapit bagian belakang rumah kos sebelah kiri dan kanan.

00.45 WIB

Oahemmm.. Aku menguap lebar. Rasanya mata sudah tidak bisa diajak kompromi lagi. Padahal masih ada sekian lembar catatan yang belum kubaca. Entah berapa banyak materi yang sudah terserap oleh otakku yang rasanya kian lambat saja. Aku bangkit dari kursi, menggeliat dan menguap lebar. Sejenak mataku berhenti pada sebuah foto keluarga yang sengaja kutempelkan di sisi depan lemari. Ada kami berenam di situ. Aku dan adik-adik, bunda dan…almarhum ayah. Sejenak ada rasa kangen menyeruak memandangi wajah-wajah mereka. Aku tersenyum lalu berjalan ke arah pintu. Rasanya segelas susu hangat akan jadi penutup yang manis buat malam ini.

Sedetik sebelum tanganku meraih gagang pintu, mendadak pintu terbuka kasar. Hampir saja wajahku terbentur pintu. Seketika rasa marah muncul dari dalam diriku, tapi seketika pula kuurungkan melihat siapa yang membuka pintu. Dia teman sekamarku. Hanya sedetik kami berpandangan, dia tiba-tiba memelukku erat.

“Heiii..apa-apaan ini?” seruku protes.

“Takut, bang….takuuut.”

Suara itu terdengar lain. Seolah sesuatu yang sangat menakutkan telah terjadi. Ketika temanku mendongak, aku terkesiap menyadari. Wajah itu pucat tak berdarah. Pada saat itu aku baru mengerti perkataan orang-orang mengenai seperti apa wajah yang “pucat seperti habis melihat hantu.” Aku coba tenangkan temanku yang umurnya sekitar 3 tahun di bawahku.

“Sudah…sudah. Tenang dulu, ceritakan apa yang terjadi. Ini minum dulu.”

Tanganku meraih gelas minum dari atas meja. Dia menerima dengan tangan gemetar, lalu meminumnya hingga tandas. Gemetar tubuhnya perlahan berkurang, tapi wajah pucat itu belum kembali pulih. Kubiarkan ia mengatur napas.

“Sudah tenang?”

Ia mengangguk.

“Sekarang ceritain deh. Ada apa?”

“Aku melihat almarhum bapak, bang. Di pintu dapur.”

Serrrr… Bulu kudukku meremang. Melihat roh dalam wujud apapun adalah hal yang sangat tidak aku inginkan. Tapi kemudian sebuah perasaan aneh muncul dari dalam diriku. Belum sempat aku memikirkan perasaan apa itu, temanku melanjutkan ceritanya.

“Awalnya aku ga ada perasaan apa-apa, bang , aku nyuci baju hampir selesai. Tapi tiba-tiba aku merinding. Kupikir karena angin dingin, tapi kepala rasanya diarahkan untuk melihat ke arah dapur. Di situ aku lihat bapak berdiri.”

Tubuhnya kembali bergetar. Menutupi wajahnya dengan kedua tangan, ketakutan yang sangat kembali menguasai dirinya. Kembali kutepuk-tepuk bahunya sekedar menenangkan. Perasaan aneh yang tadi kembali datang dan masih belum terjelaskan.

“Aku ga bisa gerak, bang. Kakiku rasanya berat banget. Kepala pun ga bisa gerak, terus-terusan melihat ke arah bapak. Tapi, akhirnya aku bisa berdiri. Aku tinggalin aja cucianku, lalu lari ke dalam.”

Aku membayangkan situasi. Jarak antara dapur dan kamar mandi sekitar 5 meter. Di tengah-tengah jarak itu lah terdapat sebuah pintu penghubung menuju deretan kamar-kamar kos di bagian depan rumah. Jadi saat dia akan masuk ke rumah, dia sesungguhnya berjalan mendekati ‘roh’ almarhum ayahnya. Kudukku kembali meremang.

“Gimana ekspresi Bapak?” Pertanyaan bodoh, tapi itu lah yang terpikirkan di benakku.”Dia tersenyum? Atau kelihatan marah? Atau sedih?”

“Enggak, bang. Bapak kayaknya tersenyum.”

Mendengar jawaban itu dadaku bergejolak. Kian jelas perasaan apa yang sejak tadi mengganggu pikiranku : Cemburu!

01.20 WIB

Berbaring di ranjang atas, mataku sejak tadi belum juga bisa terpejam. Temanku sudah terlelap sejak tadi. Tampaknya rasa takut sudah menghilang dari dirinya. Sementara aku, masih bergulat dengan rasa cemburu yang kian menghimpit. Dia ‘dikunjungi’ ayahnya! Ayahnya datang dari alam lain untuk melihat seperti apa anaknya sekarang. Sedangkan aku? 5 tahun sudah ayah meninggal, belum sekalipun dia datang dalam mimpiku. Sekalipun! Padahal sudah tak terhitung berapa kali aku memikirkannya sebelum tidur, dengan harapan dapat memimpikannya. Apalagi ini, datang ‘langsung’! Aku akui aku tak ingin bertemu roh dalam bentuk apapun, tapi jika itu adalah ‘orang’ yang sangat aku sayangi, aku mau!

Meski dadaku kian sesak, rasa kantuk tampaknya lebih menguasai diriku. Perlahan kuletakkan foto keluarga yang sejak tadi ada di dadaku ke sebelah bantal. Sebelum memejamkan mata dan terlelap dalam tidur, bibirku mengucap lirih.

“Ayah, aku rindu.”

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s