[Flashfiction] Mawar Darah

mawar

Nek Narti gelisah. Taman mawar di depannya tampak menyedihkan. Bunga-bunga merah itu layu, tangkainya runduk menatap tanah.

Tangan keriput perempuan tua itu menjamah sekuntum mawar yang sebagian kelopaknya telah luruh. Kelopak yang tersisa berwarna pucat.

“Kuharap Danar berhasil atau mawar darah kesayangan Mbah Garang akan mati.”

Nek Narti ketakutan membayangkan kemurkaan Mbah Garang. Itu artinya petaka buat mereka. Ia akan kehilangan kesaktiannya, dan Danar….. ah… Ia bergidik.

“Nek! Dapat!”

Danar memanggul sesuatu yang terus bergerak di dalam karung. Nek Narti mengintip ke dalam. Wajahnya berseri.

“Segera, Danar!”

Danar mengeluarkan gadis remaja dari dalam karung. Pisaunya teracung. Darah tumpah membasahi kelopak mawar. Perlahan, tangkainya menegak. Mawar darah kembali segar.

Nek Narti tersenyum puas.