Tentang Ayah, Tentang Rindu

logo1

11 bulan, 61 tulisan. Mana yang paling berkesan?

Selama kurun waktu 11 bulan di tahun 2014 saya menulis belasan cerpen, puluhan flashfiction, beberapa puisi abal-abal (sehingga saya menamainya ‘semacam puisi’) juga tulisan non-fiksi. Beberapa tulisan non-fiksi ini saya buat untuk memenuhi tantangan lomba menulis atau giveaway baik yang diadakan oleh perorangan maupun perusahaan. Dua atau tiga tulisan fiksi dan non-fiksi saya kemudian terpilih untuk mendapatkan hadiah dari penyelenggara kontes.

Jadi, apakah salah satu dari tulisan pemenang lomba atau giveaway itu yang paling berkesan buat saya?

Enggak.

Betul, setiap tulisan telah saya pikirkan masak-masak pada saat pengerjaannya. Kata-kata saya pilih dengan sebaik-baiknya. Tapi ada satu tulisan yang benar-benar merasuki jiwa pada saat membuatnya. Tandas menguras emosi hingga saya nyaris menangis. Oh, bukan nyaris, tetapi benar-benar menangis. Saya harus menyingkirkan laptop dari pangkuan dan membiarkan tetes-tetes air mata berjatuhan dari pelupuk. Saya sungguh –kembali- merasa hancur.

Tulisan tersebut berupa sebuah cerita pendek berjudul Titip Rindu Buat Ayah. Ya, ini adalah cerita yang saya alami sendiri. Kisah nyata yang pernah menghancurkan hati. Melumpuhkan daya hidup. Membuat saya merasa mati.

Lanjutkan membaca “Tentang Ayah, Tentang Rindu”

[Cerita Pendek] Lelaki Tua di Tengah Gerimis

Prompt 64

sumber foto : dok. pribadi Rinrin Indrianie

Akhirnya kutemukan kau, Pak Tua!

Aku mendesiskan nama lelaki itu dengan geram. Dari balik tanaman pot penghias sebuah rumah makan kuamati lelaki itu. Dia sedang berteduh dari hujan di sebuah kios kecil yang menjual perabot dari gerabah. Di bawah kanopi kulihat dia berulang kali mengusap wajah yang terkena air hujan. Sepedanya terparkir  di bawah sebatang pohon mangga, dimuati seikat penuh rumput gajah. Berkali-kali dia menengadah menentang langit yang terus menjatuhkan jarum-jarum air. Langit masih pekat, hujan mungkin masih lama.

Ternyata tidak. Hanya berselang sekian menit, hujan deras berganti gerimis. Lelaki tua itu bersiap pergi. Topi caping dia kenakan. Setelah mengucapkan sesuatu pada pemilik kios, dia berjalan menuju sepedanya dan mulai mengayuh.

Kau tak akan lolos dariku! Lanjutkan membaca “[Cerita Pendek] Lelaki Tua di Tengah Gerimis”

[Cerita Pendek] Titip Rindu Buat Ayah

foto : julaxalay.blogspot.com
foto : julaxalay.blogspot.com

Sabtu, 3 Januari 2004.

Rangga mengempaskan tubuhnya yang lelah di atas kasur tipis di kamarnya yang sempit. Matanya seolah digantungi berkilo-kilo pemberat. Lima menit tadi dia mengurungkan niatnya untuk mengudap isi lemari makan setelah menguap berkali-kali. Tumis udang dan sayur rebung kesukaannya dia biarkan utuh di dalam lemari. Nanti saja, pikirnya.

Semilir angin yang menerobos kisi-kisi jendela kamar membuat kantuk kian terasa. Perlahan mata Rangga memejam, mimpi hampir datang kalau saja bunyi monofonik dari ponselnya terdengar. Rangga ingin mengabaikan pesan yang masuk tapi rasanya enggan tidur dengan rasa penasaran. Setengah terpejam dibacanya sms itu.

Ga, berenang yok!

Hm, apaan sih Fajar ngajakin berenang jam segini? Kan tahu sendiri semalam barengan begadang di kantor, gumam Rangga. Diketiknya sebaris kalimat balasan.

Maaf, Jar, aku mau tidur. Ngantuk berat.
Terkirim.

Sembarangan Rangga meletakkan ponsel candy bar keluaran terbaru dan bergegas memeluk guling lebih erat. Tapi lagi-lagi dia terbangun. Kali ini karena sebuah panggilan dari luar kamar. Lanjutkan membaca “[Cerita Pendek] Titip Rindu Buat Ayah”

[Flashfiction] Kangen

foto : kreavi.com
foto : kreavi.com

Malam menghadirkan sunyi yang menikam, aku sendirian. Kuseka butiran bening yang gugur perlahan. Rindu terasa begitu menyakitkan. Kuraih ponsel dari atas meja, mencari sebuah nama dari daftar. Kutekan tombol dial.

Tuuuut…. tuuuttt… tuuutt…

Dering tak berjawab terdengar berkali-kali. Aku sabar menanti. Hingga akhirnya…

“Halo! Jika kamu mendengar ini, artinya saya sedang tidak bisa menjawab panggilan kamu. Mohon tinggalkan pesan setelah suara sendawa berikut ini.” Lanjutkan membaca “[Flashfiction] Kangen”

[Flashfiction] Bapak

foto milik Mbak Orin
foto milik Mbak Orin

“Bapak, apa kabarmu?”

Ingin sekali aku menanyakan hal itu saat kita bertemu. Aku akan raih tanganmu yang mengeriput, membawanya ke dahi sebagai tanda hormatku. Tapi aku belum mampu, tidak untuk saat ini. Sepuluh tahun berlalu begitu saja sejak terakhir kita bertemu. Sepuluh tahun yang terasa seolah baru kemarin.

“Bapak, bagaimana kesehatanmu?”

Masihkah sesak napas menghantui hari-harimu? Dulu saat aku masih bersamamu, aku akan bergegas mencari jeruk nipis di dapur, mencampur air perasannya dengan secangkir air hangat dan gula batu. Lalu kau meminumnya perlahan, berbaring di dipan sambil kupijat kaki kurusmu.

“Bapak, apa yang terjadi sepuluh tahun yang lalu?”

Aku tak tahu apakah Bapak tahu penyebab kejadian sepuluh tahun lalu itu. Sungguh aku tak mengerti mengapa ada segerombolan orang yang mengepung rumah kita, berteriak kasar, memaki dan menghancurkan barang-barang sederhana yang kita punya. Jika Bapak memang tahu, tolong beritahu aku.

“Apakah Bapak terluka pada malam itu?”

Saat kita bertemu, akan aku periksa dahimu. Mungkin ada bekas luka di situ. Sebab malam itu kulihat seorang penyerbu memukulkan kayu yang ia pegang ke dahimu. Kau terhuyung, jatuh terduduk memegangi dahimu yang mengucurkan darah. Aku meraung saat itu, Pak. Aku menyerbu ke arahmu. Tapi mereka telah lebih dulu menyeretmu menjauh. Mengabaikan jeritanku. Kepedihanku.

“Kemana saja Bapak selama ini?” Lanjutkan membaca “[Flashfiction] Bapak”