[Cerita Pendek] Menentang Naluri

foto : 4shared
foto : 4shared

“Paa, ayo cepetan!”

Dari dalam kamar bisa kudengar suara nyaring istriku memanggil dari teras. Sudah menjadi kebiasaannya untuk berteriak jika sedang terburu-buru. Padahal kamar kami dengan teras hanya berjarak sekitar dua meter karena letaknya paling depan.

“Iya, Maaa,” aku balas berteriak. Kusambar jaket kulit berwarna cokelat dari dalam lemari. Menyisir rambut sekadarnya lalu bergegas keluar.

“Papa, lelet banget sih?” omelnya ketika melihatku muncul di ambang pintu. “Ntar kita telat kan nggak enak,” tegasnya. “Tuh, rambutnya masih berantakan lagi!” sambungnya kesal.

Aku hanya nyengir, mengunci pintu depan lalu menuju mobil. “Ini kan bukan acara resmi, Ma,” aku membela diri. “Bahkan semestinya kita nggak usah ikut aja. Nanti Mama nggak tahan.”

Sambil menutup pintu mobil istriku menyahut singkat,”Tahan, kok.” Lanjutkan membaca “[Cerita Pendek] Menentang Naluri”