[Cerita Pendek] Nisan Untuk Hamidah 2

nisan

Bagian pertama bisa dibaca di SINI

Hamidah termenung di sofa besar ruang tamu. Matanya menerawang jauh seolah menembus plafon. Berkali-kali dia mendesah panjang, lalu kembali melamun. Abdul memerhatikan dari pintu penghubung toko.

“Sudah dua hari Ibu begitu, Sal. Emang ada kejadian apa sih?” Mursal hanya mengedikkan bahu sambil terus menyapu lantai toko. Abdul menghela napas.

“Abdul, Mursal kemari!” Suara nyaring Hamidah terdengar. Abdul dan Mursal berpandangan lalu menghentikan pekerjaan masing-masing. Bergegas keduanya menemui Hamidah.

“Duduk, Dul, Sal.” Hamidah menyilakan.

Kedua pekerjanya menurut. Duduk berdampingan sambil memegangi lutut. Sedikit berdebar di dada dan gejolak di perut.

“Kalian udah berapa lama kerja sama saya?”

Abdul menjawab pelan. “Lima tahun, Bu.”

Mursal mengangkat tiga jari tangan kanannya.

“Gaji yang saya kasih cukup?” Hamidah menatap dua lelaki di depannya.

Mursal dan Abdul saling berpandangan. Duh, gimana cara jawabnya nih? Kalau dibilang nggak cukup, ntar bakalan dipecat nggak ya?

“Lho, kok pada diam? Saya nggak bakal marah kok dengan jawaban apapun dari kalian.” Hamidah mencoba meyakinkan.

“Maaf, Bu. Jujur saja gaji saya udah dua tahun nggak ada kenaikan. Sekarang ini apa-apa mahal, jadi ya rasanya gaji dari Ibu nggak cukup.” Abdul akhirnya bersuara setelah Mursal menyikutnya dan memberi isyarat “yang lebih tua yang ngomong duluan dong”.

Hamidah memandang Mursal. “Kalau kamu?”

“Eh, anu…itu Bu…saya kan baru tiga tahun kerja, dan saya pun masih bujangan…jadi ya…gaji dari Ibu cukup-cukup aja. Tapi kalau mau ditambahin juga nggak nolak, Bu.” Mursal nyengir.

Hamidah diam sejenak. Angka-angka berputar di kepalanya. Dahinya berkerut, bibirnya bergerak-gerak. Mursal merasa geli. Dia hampir saja tertawa jika pandangan Abdul yang tajam tak menghentikannya.

“Gini aja, mulai bulan depan gaji kalian saya naikkan 30%. Gimana?” Hamidah akhirnya mendapatkan keputusan.

“Serius, Bu?” Abdul melongo. Ada angin apa sampai majikannya yang terkenal ‘hemat’ ini begitu bermurah hati?

“Maaf, Bu, Ibu nggak sedang bercanda kan?” Mursal memberanikan diri bertanya. “Ibu sehat, kan?”

“Heh! Memangnya saya kelihatan sedang bercanda apa?” Hamidah melotot galak. Mursal mengkerut di tempat duduknya. Lanjutkan membaca “[Cerita Pendek] Nisan Untuk Hamidah 2”

[Cerita Pendek] Nisan Untuk Hamidah

nisan

Assalamualaikum wa rahmatullahi wa barakatuh. Innalilahi wa inna ilaihi roji’un. Telah meninggal dunia seorang hamba Allah yang bernama Hamidah binti Rahmad Sukardi pada hari ini Jumat tanggal 23 Agustus 2013. Jenazah akan dikebumikan….”

Hamidah tersentak bangkit dari tidurnya. Mimpi itu lagi! Mimpi yang sama seperti dua hari lalu. Terbayang jelas di matanya suasana sebuah mushalla. Seorang lelaki tua berjalan perlahan menuju pengeras suara. Menghela napas panjang lalu mulai membaca kertas kecil berisi berita kematian di tangannya. Lalu Hamidah mendengar namanya disebut. Dia sudah mati!

Perempuan tua berusia 58 tahun itu mengusap dahinya yang basah keringat. Ketika tangannya tiba di depan mata dia baru menyadari jemarinya gemetar. Takut. Tak percaya. Atau mungkin gabungan keduanya.
Hamidah meraih gelas di atas nakas di samping tempat tidurnya. Meneguk air bening hingga tandas. Dalam keremangan diliriknya weker yang masih menunjukkan pukul 2.30 dinihari. Hamidah berbaring dan mencoba untuk kembali tidur. Tapi hingga suara orang mengaji dari mushalla yang letaknya di gang sebelah mulai sayup terdengar, mata Hamidah masih enggan terpejam.

**********
Pagi kembali lahir. Sama seperti pagi hari-pagi hari yang telah berlalu. Seiring jemari cahaya mentari mulai menggelitiki bumi, riuh kicau burung dan lalu lalang kendaraan, Hamidah memulai kegiatan rutinnya. Meski mimpi semalam masih merusuhi pikiran, kehidupan tetap harus dijalankan.

“Hei, Abdul!”

Lelaki kurus berkulit hitam yang sedang menyapu halaman depan toko menoleh. “Ya, Bu?”

Hamidah melambaikan tangan, menyuruh lelaki itu mendekat.

“Itu kenapa semen-semen yang datang kemarin belum dipindahin, hah?” Hamidah mendelik. Abdul mengkerut.

“Maaf, Bu, belum sempat. Badan saya masih sakit.”

“Maaf, maaf. Kalau kerja yang bener dong. Kamu kan saya gaji buat bekerja yang bener. Ayo, cepat bereskan! Lah, mana si Mursal? Kenapa belum kelihatan anak itu? Huh, pekerja kok nggak ada yang bener. Minta dipecat aja!”

Hamidah gusar memasuki bagian dalam toko bahan bangunan miliknya. Tangannya meraih telepon di atas meja kasir lalu menekan sederet tombol. Tak lama kemudian terdengar suara omelannya memarahi seseorang. Hamidah membanting gagang telepon dan berlalu ke dalam rumah. Abdul menahan kekesalannya dalam hati. Lanjutkan membaca “[Cerita Pendek] Nisan Untuk Hamidah”