Permainan Takdir [Bagian 3]

Permainan Takdir [Bagian 1] klik DI SINI

Permainan Takdir [Bagian 2] Klik DI SINI

Entah berapa lama aku memandangi sosok yang tengah tertidur itu. Perasaanku sedikit miris. Sepertinya luka-luka yang diderita Firman cukup parah. Aku bangkit dan mendekati Firman. Tanganku terulur hendak membelai rambutnya. Tepat pada saat itu Firman berbalik. Aku terhenyak. Dia bukan Firman!

Dia bukan Firman anakku!

Melihat aku tampak terperanjat, buru-buru Midah bangkit dari ranjang dan mendekatiku. Aku masih gemetaran. Kenyataan kembali mengguncangku. Dia bukan anakku!

“Dah…lihat Dah, dia bukan Firman, Dah. Mana anakku, Dah? Mana?” Sekuat tenaga aku menahan keinginan untuk menjerit. Midah mengalihkan pandangannya ke arah tubuh di atas ranjang.

“Mak…kulitnya putih. Dia…dia bukan Firman. Kalau dia bukan Firman, artinya Firman sudah….”

Midah tak sanggup melanjutkan kalimatnya. Berdua kami berpelukan saling menangis. Rasanya pilu sekali. harapan yang sempat tumbuh sekarang seperti tanaman tersiram air panas. Melayu dan seperti lumpuh. Kami tenggelam dalam duka, tak menyadari keadaan sekitar. Kami baru tersadar saat perawat muda tadi menegur.

“Eh, eh…kenapa pada nangis? Kalian mengganggu istirahat pasien. Saya harus minta kalian keluar.” Dia berkata tegas. Kuangkat kepalaku, menatap sosok di ranjang yang sekarang telah terbangun.

“Kak Suster, dia itu bukan Firman. Dia orang lain.” Midah menuding ke arah ranjang. Aku kembali terisak.

“Ah, sesuai KTP yang kami temukan di dompetnya, namanya Firman Awwaddin, asal Langsa. Polisi juga bisa menghubungi keluarganya setelah memeriksa ponsel yang ada di kantong celana Firman. ” Perawat itu meneliti catatannya.

“Pasti ada kesalahan, Kak. Ibu ini mamak kandungnya. Dia nggak mungkin salah. Anaknya si Firman itu kulitnya coklat, bukan putih kayak dia.”

Mata kami semua tertuju pada sosok di atas ranjang. Mata itu tampak ketakutan. Rasa bersalah terbayang jelas. Perawat itu mendekat.

“Benar namamu bukan Firman Awwaddin?”

Kepalanya menggeleng. Pertahananku jebol. Aku kembali terisak. Jika dia bukan Firman, lalu di mana Firman? Lanjutkan membaca “Permainan Takdir [Bagian 3]”

Permainan Takdir [Bagian 1]

takdir

sumber

“Bunda, tolonglah kali ini aja berkorban buat Firman. Jual tanah punya Bunda itu.”

Anak lelakiku meminta dengan sedikit memaksa.

“Bunda nggak bisa, Fir. Cuma itu harta yang Bunda masih punya, selain rumah yang kita tempati sekarang.” Aku berusaha bertahan.

“Kalau Bunda nggak mau berkorban, kayak mana nasib Firman, Bun? Jadi tentara itu cita-cita Firman sejak kecil. Sekarang umur Firman udah dua puluh. Kesempatan buat masuk tinggal sedikit lagi. Lihat itu si Popon, udah jadi tentara dia sekarang.”

“Fir…”

“Kenapa sih Bunda nggak mau lihat anaknya senang?” Firman memalingkan wajahnya, menatap halaman yang gelap sebab lampu belum dinyalakan. Dadanya naik turun menahan emosi.

“Bukan Bunda nggak mau, Firman. Tapi kamu kan tahu sendiri, kalau tanah itu dijual, kita nggak bisa nanam lagi. Lalu Bunda nyari duitnya dari mana? Kita mau makan apa?”

Firman tak menjawab. Aku melanjutkan kalimatku.

“Dan lagi kalau dijual paling laku cuma berapa? Sementara buat masuk jadi tentara biayanya berapa? Kamu tahu kan berapa puluh juta yang udah dikeluarin bapaknya si Popon biar dia jadi tentara? Tahu kan?”

Aku berusaha menekan emosiku. Anak bungsuku ini memang manja. Jika keinginannya tidak dipenuhi, dia akan merajuk. Padahal sekarang dia bukan anak-anak lagi.

“Aaaaah!  Firman benci kayak gini! Punya cita-cita tapi nggak didukung orangtua. Coba kalau Ayah sama Bunda nggak pisah, pasti Firman nggak jadi kayak gini.”

“Firman!” Lanjutkan membaca “Permainan Takdir [Bagian 1]”