[Flashfiction] Surat Milik Ibu

sebuah surat

Ayah Liza keluar dari ruang kerjanya sambil mengacungkan sepucuk surat. “Liza,” katanya, “ayah sedang mencarimu; masuklah ke ruang kerja ayah.”
Liza mengikuti ayahnya memasuki ruang kerja, dan ia menduga bahwa apa yang akan disampaikan oleh ayahnya tentu berhubungan dengan surat yang dipegangnya. Mereka duduk berdua saling berhadapan. Liza menyusun kata-kata dalam kepalanya untuk memberikan penjelasan yang tepat.

Liza merasakan tangannya berkeringat. Padahal ruangan kerja Ayah cukup sejuk sebab jendela-jendela yang terbuka lebar memberi keleluasaan angin untuk masuk. Telinga Liza menangkap sebuah nyanyian keluar dari gramofon Ayah. Ayah pernah bilang kalau lagu ini milik grup musik terkenal saat ini : Koes Plus. Liza ingin ikut bernyanyi menghilangkan rasa gugup, tapi rasanya sekarang bukan saat yang tepat. Ayah sedang memandanginya.

“Sayang, kenapa kamu tulis surat seperti ini?” Ayah bertanya lembut. Liza menunduk tak mengerti. Ia hanya berpikir, jika ayah memanggilnya masuk ke dalam ruang kerjanya, itu berarti ia telah melakukan kesalahan. Liza memuntir ujung bajunya. Menggigit bibir. Lanjutkan membaca “[Flashfiction] Surat Milik Ibu”