[Cerita Pendek] Surat Untuk Anakku

surat untuk anakku

Kau tahu, Nak, ada banyak ungkapan tentang cinta pertama. Yang paling terkenal tentunya ungkapan “Cinta Pada Pandangan Pertama”. Ya, Ayahpun pernah mengalaminya, dengan ibumu tentu saja. Waktu itu Ayah dan Ibumu bertemu saat mengikuti rapat panitia dalam mempersiapkan penyelenggaraan sebuah kegiatan sosial di kampus tempat kami berdua menimba ilmu. Agak aneh rasanya, kami yang selama ini kuliah di tempat yang sama selama bertahun-tahun tapi tak pernah bertemu sama sekali sebelumnya. Ada banyak alasan yang masuk akal, misalnya, karena jurusan kami berbeda, karena aktivitas kami juga berbeda, atau karena hobi yang sama sekali bertolak belakang. Kau tahu apa hobi ibumu dulu, Nak? Naik gunung! Ya, itu hobi utama ibumu dulu. Dia perempuan paling “perkasa” yang pernah Ayah kenal. Ha ha ha, kau tahu, Nak, ibumu selalu cemberut tiap kali Ayah bilang dia adalah perempuan perkasa. Bagaimana tidak, gaya berpakaiannya cuek, wajahnya tanpa riasan sama sekali, bahkan cara berjalannya pun mirip laki-laki.

Sebentar, mungkin kau akan bertanya-tanya, bagaimana bisa ayah tahu tentang kebiasaan Ibumu padahal kami baru bertemu di acara kampus itu? Biar Ayah jelaskan, Nak. Ayah tahu dari teman-teman kampus Ayah. Dua diantara mereka adalah Om Benny dan Tante Endah. Nanti akan Ayah kenalkan kau pada mereka. Entah mengapa, mereka semangat sekali menyuruh Ayah mendekati Ibumu. Padahal mereka tahu, Ayah dan Ibumu itu berbeda sekali dalam banyak hal. Ibumu senang beraktivitas di luar ruangan. Naik gunung, arung jeram, masuk hutan. Sedang Ayah lebih tertarik dengan kegiatan di dalam ruangan seperti mengikuti organisasi kemahasiswaan, mengikuti lomba pidato, menulis untuk majalah kampus, dan sebagainya. Akhirnya Ayah mengerti mengapa Om Benny dan Tante Endah menjodoh-jodohkan kami. Mereka mungkin melihat kami punya kesamaan, sama-sama tertarik pada kegiatan sosial dan saat itu sama-sama sedang tak punya pasangan.

Acara kampus yang tadi Ayah sebut adalah acara penggalangan dana untuk anak-anak terlantar di seputaran kampus kami. Ayah bertindak sebagai ketua panitia dan Ibumu sekretarisnya. Hal itulah yang menyebabkan kami jadi semakin dekat. Semakin sering bertemu, semakin kagum Ayah pada Ibumu. Di luar tampilannya yang cuek, ternyata Ibumu sangat tinggi jiwa sosialnya. Ia begitu peduli pada orang-orang miskin. Ia akan bersedia membantu apapun untuk orang-orang yang membutuhkan bantuan. Baca lebih lanjut