[Berani Cerita #12] Suatu Hari di Kota Baghdad

pasar

Brukkk…

Hasan terhuyung. Keranjang berisi kurma yang dijunjungnya disenggol seorang lelaki bertubuh tinggi besar. Butiran buah manis itu berjatuhan ke tanah.

“Gunakan matamu, Nak, ” tegur lelaki bercambang lebat bermata tajam memakai tsaub dan surban putih yang diikat dengan igal hitam. Jubah hitamnya berkibar diterpa angin.

Mutaassif, Sayyid.” Hasan meminta maaf. Ia memilih mengalah untuk menghindari keributan. Hasan memunguti kurma yang berserakan, menggosok beberapa di antaranya untuk menghilangkan debu. Hasan tertatih  melangkah menuju kedai Tuan Zakir.

Ya, Hasan! Jika kau selalu terlambat seperti ini, bisa rugi daganganku!” gerutu Tuan Zakir. Ketika memeriksa isi keranjang, omelannya kembali meluncur. “Kau apakan kurmaku, Nak? Lihat, rusak begini! Tak akan ada yang mau membeli! Upahmu aku potong satu dirham!”

Hasan terperanjat. Ia menggeleng keras-keras. Lanjutkan membaca “[Berani Cerita #12] Suatu Hari di Kota Baghdad”