[Cerita Pendek] Senyum Adinda

senyum adinda. 2 jpg

Senyum masih belum juga hadir di wajah Adinda. Remaja tanggung berambut ikal dan panjang itu terus cemberut.

“Bu Nurul pasti sengaja deh nunjuk aku jadi penjaga stand sekolah,” tangannya memuntir ujung rambut, kebiasannya ketika sedang kesal. Mira yang duduk bersamanya hanya mengangkat bahu.

“Iya, coba aja bayangin, aku udah bilang enggak mau, eh Bu Nurul tetap aja maksa.”

“Mungkin supaya kamu bisa belajar, Din,” sahut Mira.

“Belajar apaan? Yang ada capek tahu! Aku kan….”

Ucapan Adinda terputus. Seorang ibu-ibu dengan dandanan meriah sudah berdiri di depan mereka. Tangannya menunjuk ke sebuah hiasan rambut yang terbuat dari anyaman pita.

“Oh, harganya murah kok, Bu. Lima ribu aja,” jawab Mira sambil tersenyum ramah.

“Ih, mahal amat! Tiga ribu deh,” ia mencoba menawar.

“Wah, maaf Bu. Kalau tiga ribu, enggak ada untungnya. Empat ribu lima ratus deh.” Senyum Mira masih mengembang. Adinda yang sejak tadi memperhatikan semakin cemberut.

“Alaahh…barang beginian aja kok mahal. Yang buat pun cuma anak-anak, modelnya juga biasa aja.”

“Ibu, itu….”

Adinda lekas menukas. Hatinya terlanjur panas. Lanjutkan membaca “[Cerita Pendek] Senyum Adinda”