[Semacam Puisi] Ingatkah Kau Padaku : Sebuah Catatan Lama

ingatkah kau padaku

Ingatkah Kau Padaku?

Ingatkah kau padaku?
Seperti ku s’lalu ingat padamu
Jauh perjalanan yang harus kita tempuh
Terasa ringan langkah yang terayun
Meniti buih hidup bersama
Tiada keraguan

Ku s’lalu ingat padamu
Tak peduli apakah kau juga begitu
Tulus harapan yang kukirimkan
Lewat semilir hembusan bayu
Dan percikan embun pagi
Hidupmu kan s’lalu bersinar
Diselubungi kebahagiaan sejati

Hari ini tiba saat berucap
Kata selamat ucapan doa
Padamu yang tengah berbahagia
Semoga segala cita dan cinta
Menaungi hidupmu s’lalu
Hanya satu yang ingin kutahu
Ingatkah kau padaku?

Jalanpanjangberliku, 020903
Adakah Asa?

******

Lihat tanggal yang tertera pada ‘semacam puisi’ di atas? Ya, 2 September 2003, nyaris sepuluh tahun lalu. Seorang teman ternyata masih menyimpan tulisan lamaku itu yang dulu kuketik di komputer milik kantor. Ya, ternyata sepuluh tahun lalu aku sudah senang ber-semacam-puisi. Semoga sepuluh tahun yang akan datang, dan sepuluh tahun-sepuluh tahun berikutnya aku akan tetap menulis. Semoga kelak tulisanku itu layak diberi label ‘puisi’ dan bukannya ‘semacam puisi”. Amiin… 🙂

Thanks to Emma…

[Semacam Puisi] Masih Ada Cinta

masih ada cinta

Cinta ternyata tak pernah kemana-mana.

Berdiam diam di rongga dada, sembunyi di sela terdalamnya.

Merasuki tiap sel, memaksa jantung kerap berdetak tanpa aku menyadarinya.

Meski telanjur kubangun dinding tinggi, untuk redam gejolak, tapi tetap saja…

Aku tak bisa.

Maka menghambat rambat getarannya adalah pilihan yang masih kupunya.

Cinta itu masih di sini, di dalam rongga dada.

Meski sesekali cuma kusentuh wajahnya, tapi entah mengapa ia tetap setia menyala.

Seperti sekam menyimpan bara, menanti sejumput angin datang membakarnya.

Meski telah lama kuabaikan ia, ia tak pernah melupa.

Sabar menantikan masa, untuk meluap, menerjang, menembus segala batas yang kucipta.

Cinta ini selalu bersiaga, seperti serdadu dari baja yang kokoh jumawa.

Kapan saja aku lengah, ia telah bersedia.

Entah dengan satu sapa, satu senyum, atau kerling manja.

Akan runtuh segala dinding yang lama kujaga, luntur topeng sandiwara.

Lalu tampak wajah asli yang tak henti mendamba.

Cinta ini masih ada, sekian lama tetap kupelihara.

[Semacam Puisi] Izinkan Aku Pergi, Bunda

bundaIbundaku sayang, senyumi aku. Aku tak berharap melihat air matamu, justru di saat-saat terakhir hidupku.

Belahan jiwaku, betapa teriris jantungku melihat deritamu. Bagi aku rasa sakit itu, agar reda pedih ini.

Wahai pemilik kaki tempat surga bersemayam, doakan aku, perjalanan ini akan lebih mudah dengan restumu.

Wahai cinta, yang kulahirkan dengan bertaruh nyawa, keridhaanku selalu untukmu. Dunia dan akhirat.

Wanita mulia tempat aku bermohon doa, aku pergi hanya sementara. Dengan izin-NYA kita akan berjumpa lagi.

Anakku sayang hiasan mata, pergi yang tenang menuju-NYA. Akan kukirim doa di tiap malam buta.

[Semacam Puisi] Sedalam Apa Kau Kenal Cinta?

kenal cinta 2Siapa bisa salahkan cinta. Bila ia hinggap lalu mengakar di tempat yang tak biasa, bahkan -mungkin- tak seharusnya.

Siapa mampu salahkan cinta, jika ia membuai dua hati, hingga lupa dunia sekitarnya. Lupa norma-norma.

Siapa berhak menghujat cinta, ketika tak berbalas, lalu ia berubah angkara.

Sungguh tak pantas menyalahkan pencinta, jika belum pernah merana sebab cinta tak berbalas cinta.

Mengertilah, jika pencinta berubah jadi pemurka sesungguhnya ia tengah merana, tepat di jantung jiwanya.

Siapa mengerti arti sakit hati, saat yang dicinta tak lagi merasa yang sama?

Siapa tahu pilu yang meremas kalbu, kala dia yang kau anggap satu, ternyata telah belajar melupakanmu.

Siapa mampu menyangkal derita jiwa, saat yang dicinta berhasil lupa akan cinta yang dulu dikira sebesar dunia.

Pernahkah kau mengira, kalau dia kan sirna? Walau kau tak percaya, dengan sepenuh jiwa. *

Kehilangan cinta dari seseorang yang dicinta, ah…sakitnya..

*penggalan lagu Letto ~ Memiliki Kehilangan