[Cerita Pendek] Siasat Dara

foto : bamruno.blogdetik.com
foto : bamruno.blogdetik.com

Kau di mana? Cepatlah datang!

***

Temaram senja membangkitkan suasana romantis. Semburat sisa-sisa cahaya surya membentuk mosaik indah di angkasa. Suara debur ombak dan kesiur angin menambah kesyahduan. Di dalam kamar sebuah pondok yang terletak terpisah dari pondok-pondok lain, aku dan Rama duduk berdekapan di ranjang. Sedikit rasa gundah kusimpan di balik senyuman.

“Ah, aku masih kangen, Hun. Jangan pulang malam ini, yah?” Rama mengajuk. Jemarinya mengelus bahuku.

Aku tersenyum. “Aku juga maunya nggak pulang, Say. Tapi apa istrimu, eh siapa namanya? Tara? Apa dia nggak nanyain kamu nanti? Lagian besok suamiku sudah pulang.”

“Tary,” Rama mengoreksi. “Ah, kalau soal dia, tenang aja.” Ia tersenyum yakin. “Nah, tinggal gimana cara kamu ngasih alasan ke suamimu. Bilang ada reuni kek, ketemu rekan bisnis, atau apa sajalah,” usulnya.

Aku cuma manggut-manggut.

Suara piano intro lagu Someone Like You milik Adele mengalun dari ponselku. Aku menggeliat dari pelukan Rama dan bangkit meraih ponsel dari atas meja di seberang ranjang. Sebelum mengambil ponsel kulirik paras tampan Rama yang berubah waspada. Kuabaikan pertanyaan di matanya. Kubaca pesan yang tertera.

Akhirnya!
Lanjutkan membaca “[Cerita Pendek] Siasat Dara”

[Flashfiction] Sentuhan Midas

Midas

Ruang konferensi pers bergemuruh. Para wartawan gosip menghujani Rani Adelia dan Ricko Perdana dengan berbagai pertanyaan.

“Jadi kabar anda hamil di luar nikah dengan pejabat itu tidak benar?”

“Mas Ricko, anda bukan gay?” Lanjutkan membaca “[Flashfiction] Sentuhan Midas”

[Flashfiction] Ampas Kopi Sumi

foto : palingseru.com
foto : palingseru.com

Ratno mengempaskan tubuhnya di kursi reyot ruang tamu sambil menggerutu. Suara berisik yang dia timbulkan terdengar hingga ke dalam kamar. Sumi bergegas menghampiri.

“Katanya jaga kebun duren Pak Lurah sampai pagi, Mas?” Sumi merapikan rambut panjangnya. Dadanya yang penuh naik turun.

“Orangnya nggak ada di rumah! Kata tetangganya, sekeluarga pergi ke kota. Kesal aku!”

Ratno menghentakkan kaki. Sumi mengusap punggung suaminya. Mata Ratno tertuju pada segelas kopi di meja yang tinggal ampasnya.

“Lha, siapa yang ngabisin kopiku, Sum?”

Belum sempat Sumi menyahut, mendadak Ratno tersadar. “Sebelum pergi aku kan nggak minum kopi! Sumi, kopi siapa ini?” Ratno meradang. Sumi pias.

diikutsertakan dalam #FF100KATA

[Cerita 17] Labirin Cinta Semu

foto : windidwirexisworld.blogspot.com
foto : windidwirexisworld.blogspot.com

Seorang lelaki yang tak bertemu istrinya selama seminggu, mestinya akan begitu bergairah. Hasratnya akan menggebu hendak menuntaskan rindu yang terpendam. Seluruh sel tubuhnya akan meneriakkan gejolak yang menghentak. Dan tanpa menunggu waktu, dia akan meminta perempuannya untuk bersama mengarungi sungai kenikmatan. Menggetarkan peraduan. Memadu perasaan. Tapi tidak dengan suamiku. Suami yang menikahiku enam bulan lalu.

“Capek, Mas?” Dara menatap Vino suaminya dengan matanya yang sayu. Lelaki tampan di hadapannya mengangguk pelan. Pekerjaan Vino sebagai pegawai sebuah instansi pemerintahan mengharuskannya menempuh perjalanan selama enam jam. Dara tak ikut pindah bersama Vino sebab kariernya sedang menanjak. Mereka sepakat untuk tinggal terpisah.

Dara menghela napas panjang. Dia berjalan mengiringi Vino menuju kamar. Di atas ranjang sudah dia siapkan pakaian ganti. Di kamar mandi air panas sudah tersedia. Di meja makan masakan kesukaan Vino masih mengepulkan uap.

Setelah mandi dan makan, Vino dan Dara duduk santai di depan televisi. Dara sengaja merapatkan tubuhnya ke tubuh Vino. Baju tidur seksi yang dipakainya tak mampu menyembunyikan sebagian besar dadanya yang putih. Juga pahanya yang menggairahkan. Dara mengibaskan rambut panjang ikalnya yang beraroma bunga. Sesekali tangannya mengelus dada Vino yang bidang.

Tak ada reaksi yang diharapkan. Vino masih memandang jauh ke dalam televisi. Lanjutkan membaca “[Cerita 17] Labirin Cinta Semu”

[Flashfiction] Surat Milik Ibu

sebuah surat

Ayah Liza keluar dari ruang kerjanya sambil mengacungkan sepucuk surat. “Liza,” katanya, “ayah sedang mencarimu; masuklah ke ruang kerja ayah.”
Liza mengikuti ayahnya memasuki ruang kerja, dan ia menduga bahwa apa yang akan disampaikan oleh ayahnya tentu berhubungan dengan surat yang dipegangnya. Mereka duduk berdua saling berhadapan. Liza menyusun kata-kata dalam kepalanya untuk memberikan penjelasan yang tepat.

Liza merasakan tangannya berkeringat. Padahal ruangan kerja Ayah cukup sejuk sebab jendela-jendela yang terbuka lebar memberi keleluasaan angin untuk masuk. Telinga Liza menangkap sebuah nyanyian keluar dari gramofon Ayah. Ayah pernah bilang kalau lagu ini milik grup musik terkenal saat ini : Koes Plus. Liza ingin ikut bernyanyi menghilangkan rasa gugup, tapi rasanya sekarang bukan saat yang tepat. Ayah sedang memandanginya.

“Sayang, kenapa kamu tulis surat seperti ini?” Ayah bertanya lembut. Liza menunduk tak mengerti. Ia hanya berpikir, jika ayah memanggilnya masuk ke dalam ruang kerjanya, itu berarti ia telah melakukan kesalahan. Liza memuntir ujung bajunya. Menggigit bibir. Lanjutkan membaca “[Flashfiction] Surat Milik Ibu”