Aku Benci (Jadi yang Kedua)

banner mff 2 tahun

Semuanya terbayang lagi.

Decitan ban menggigit aspal, teriakan orang-orang di trotoar, suara benturan logam dengan benda lunak, dan – yang menggiriskan- sesosok tubuh melayang di udara diiringi jerit kematian menggedor jantung. Tubuh itu menghantam aspal setelah gravitasi berhasil menariknya. Darah mengalir. Sebuah kehidupan telah pergi.

Khanza mengeratkan kelopak matanya. Tidak! Tidak!

“Khanza.” Sebuah tepukan mendarat di bahu. Khanza mengerang.

“Pergi!” Khanza meradang. Penepuknya mundur tapi tak pergi. Perempuan muda berbaju putih itu mengeluarkan selembar foto.

Lanjutkan membaca “Aku Benci (Jadi yang Kedua)”

[Flashfiction] Cermin Air

Darmin menggeleng-gelengkan kepalanya ke kiri dan ke kanan. Cermin air di bawahnya masih belum menampilkan bentuk terbaik yang ia inginkan. Kadang wajahnya terlihat penyok, kadang beriak membentuk lingkaran yang kian membesar, dan sesekali tampak sempurna ketika air mengalir begitu tenang. Saat itu baru Darmin merasa puas.

Bukan sekali dua kali keluarga Darmin melarangnya pergi ke sungai. Tapi Darmin selalu bersikeras pergi atau malah mengamuk. Akhirnya keluarganya mengalah. Mereka hanya mengawasi dari kejauhan.

******

Sudah seminggu ini Darmin uring-uringan. Memasuki musim penghujan, cermin air kesukaannya kini mulai keruh. Ia tidak lagi bisa berkaca. Istrinya berusaha membujuk.

“Nanti kita cari pinjaman ya, Pak. Lalu bapak nyalon lagi. Kali ini pasti menang.”

Wajah Darmin berbinar.