[Berani Cerita #13] KTP Penyelamat

jam dua

Menjelang sore langit sedikit mendung. Angkasa tampak digelayuti gumpalan awan kehitaman. Angin berhembus kencang. Beberapa helai daun mangga yang tumbuh lebat di samping rumah kontrakan baru aku dan temanku berguguran ke tanah. Kurapatkan jaket sekedar menghalau dingin. Temanku yang kusuruh membeli gado-gado belum juga kembali.

“Ngeteh ajalah,” gumamku. Bergegas aku ke dapur. Saat sedang menyeduh teh, kudengar suara gedoran dari pintu.

Siapa sih, nggak sopan amat?

Aku beranjak malas ke depan rumah. Dari kaca jendela kulihat dua sosok berdiri, seorang lelaki dan seorang perempuan. Kubuka selot pintu.

“Cari sia— heiiii!”

Ucapanku terpotong sebab si lelaki lebih dulu merenggut kerah bajuku. Tatapan matanya menusuk.

“Nama lo Ari kan? Ngaku!” Sentaknya kasar. Wajahnya yang dihiasi bekas luka memanjang tampak seram.

Sia-sia aku meronta. Badan kecilku tak mampu menggoyahkan si tinggi besar. Aku melirik ke perempuan cantik yang masih berdiri di luar pintu. Matanya sembab memerah.

“Lo ikut merkosa adek gue, kan?” tuduhnya lagi.

“Sembarangan! Gue nggak kenal sama dia!” suaraku meninggi. Tuduhan ini keterlaluan! Lanjutkan membaca “[Berani Cerita #13] KTP Penyelamat”