[FF250Kata] Baju Baru

wpid-img-20150107-wa0005

Suara mesin jahit mulai bergema dari rumah sederhana yang terasing dari rumah-rumah lainnya. Menyudut di bantaran sungai, diapit rumpunan bambu. Sepasang kaki cekatan menekan pedal dan jarum turun naik menusuki lembaran kulit.

Buat pola terlebih dahulu, suara guru menjahitnya terngiang. Jangan sembarangan pakai jarum pentul!

Tentu saja aku tahu! Perempuan empat puluh tahun itu tersenyum tipis. Kulit yang ditusuk jarum akan meninggalkan lubang kecil yang tak bisa hilang. Agar kulit bisa direntangkan pada pola, gunakan pemberat pada keempat ujungnya.

Kaki kurus itu berhenti. Tangan burik perempuan itu turun membedal nyamuk yang hinggap di leher. Luput! Dia mulai menggaruk bekas memerah. Serpihan kulit kering berjatuhan.

Ahh..

Lanjutkan membaca “[FF250Kata] Baju Baru”

[Flashfiction] Jiwa-jiwa Terluka

foto : myreaxns.com
foto : myreaxns.com

Aku tersentak dari tidur. Pelipis kananku terasa disengat sesuatu. Refleks kutepuk binatang –yang aku yakini nyamuk – yang sedang mengisap darahku.

Plak!

Luput. Nyamuk yang merasa terganggu berdenging di telinga lalu menghilang. Kuusap kulit wajah yang gatal. Lalu hening. Aku mencoba mengingat-ingat sudah berapa lama aku terlelap. Mungkin satu atau dua jam, pikirku. Pantas saja kepalaku terasa sedikit pusing. Biasanya aku tidur siang hanya setengah jam. Eh, benarkah sekarang siang hari? Aku tak tahu. Hanya gelap yang ada di sekeliling.

Perutku bergejolak hebat. Ah, rupanya aku belum sempat makan tadi. Aku harus bangun dan menyiapkan makanan sebelum Papa pulang atau dia akan marah besar, benakku mengambil keputusan.

Dugg!

Dahiku terasa sangat sakit saat membentur benda keras. Tengkukku dingin, perasaan aneh yang tak menyenangkan merambati pikiran. Jemari ku menelusuri permukaan benda keras. Benda itu memanjang hingga ke bawah. Perlahan kuangkat kaki. Lagi-lagi sebuah benda keras yang disentuh oleh ujung jari kaki. Lanjutkan membaca “[Flashfiction] Jiwa-jiwa Terluka”