[Semacam Puisi] Perpisahan

perpisahanRentak mulai bertalu. Denting pun mengalun. Kita bergerak, segendang sepenarian. Luka-luka biar tinggal di dada, di antara gugur air mata.

Di satu titik tubuhmu kusentuh. Kamu melenguh, aku mengeluh. Kamu mendesah, hatiku resah. Kurasa aksara kita tak lagi sama. Entah.

Lalu kau bilang, ingin bicara tentang kita. Sebentar, biar kukuras kantung air mata. Entah pahit, entah manis, aku janji tak kan menangis. Sekarang, bicaralah. Aku siap mendengarmu.

Tatapanmu salju, lembut tapi beku. Aku memilih berdiang di derai hujan, ketimbang duduk di dekatmu, hanya untuk diabaikan. Semua pintaku membentur tembok batu, hatimu yang lelah dengan semua kisah.

Lalu kau bilang lelah dan ingin sudah. Tak apa, anggap saja aku tak ada. Pejamkanlah mata, lalu hitung satu, dua, tiga. Perlahan kantuk akan membawamu menuju awan surga. Memeluk lembut seluruh jiwa raga. Biar aku menunggu lelapmu, sebelum perlahan berlalu.

Lupakan dulu rasa gulana, tepiskan sejenak khawatirmu. Mimpi tak pernah lukai hati. Ia menyembuhkan. Esok kau kan bangun dengan hati suka, tanpa aku di sisimu.

Selamat malam cinta. Izinkan kupamit dari pandangan mata, hilang dari ingatanmu. Sebab telah tiba masa, kusemayamkan jiwa, di hangat rongga dada. Sendiri, entah sampai bila.