[Flashfiction] Penyesalan Cinta

Aku terengah mengejar waktu. Keringat bercucuran di dahi dan seluruh tubuh. Kupaksakan dua tungkaiku terus berlari dan berlari. Motor kutinggalkan di sebuah warung di ujung gang sana: bensinnya habis tanpa sengaja.
Di sepanjang jalan gang sesekali aku berpapasan dengan sejumlah ibu yang berbaju rapi dan saling bercanda. Raut wajah mereka ceria, berbanding terbalik dengan wajahku. Ketika mereka menyadari aku sedang berlari dengan rusuh, mereka menghentikan langkah dan menatapku heran. Aku tak memedulikan tatapan penuh tanya di mata mereka. Aku kehabisan waktu.

Memasuki halaman sebuah rumah sederhana dengan jejeran bugenvil di sepanjang pagar aku melambatkan langkah. Kuatur napas yang menderu. Kuusap keringat yang meruap di dahi, merapikan anak rambut. Langkahku pelan menuju pintu depan. Ada sejumlah orang sedang berkumpul di ruang tamu.

“Eh, coba lihat siapa yang datang! Barangkali penghulunya!” sebuah suara menyeruak. Aku menoleh ke belakangku. Kosong. Lanjutkan membaca “[Flashfiction] Penyesalan Cinta”