Anak untuk Suamiku

ayah dan anak

sumber

Kira-kira sepuluh jam yang lalu sebuah nomor tak dikenal menghubungiku. Perhatianku sesaat teralih dari deretan angka di layar monitor. Kulirik ponsel yang bergetar di samping setumpuk berkas. Pada pagi sibuk begini biasanya ponsel kumatikan, tapi karena Armada, suamiku, berjanji akan menelepon, ponsel kusetel dalam mode getar. Getaran ponsel berhenti beberapa saat kemudian. Jika memang penting, orang itu pasti akan menghubungiku lagi.

Ponsel bergetar lagi; ada pesan masuk. Kutekan tombol save di papan ketik dan meraih ponsel.

Mbak Bulan, ya?

Begitu isi pesan dari nomor tak dikenal. Hmm. Benakku mereka-reka siapa pengirim pesan ini. Semenit berlalu tak menghasilkan tebakan apa pun. Kuketikkan ‘ya’ dan menekan tombol ‘send’. Belum sempat kuletakkan benda berwarna hitam mengilat ini, sebuah pesan kembali datang.

Ini Amanda. Bisa kita ketemu, Mbak?

Amanda!

Nama itu menyeret ingatanku kembali ke masa yang belum terlalu jauh. Hanya berselang setahun lalu. Waktu itu…

Lanjutkan membaca “Anak untuk Suamiku”