[Cerita Pendek] Perempuan Perempuan Pasar

Kamar sempit berukuran 2 x 3 meter itu masih gelap. Hanya ada setitik bara merah di sudut kamar, obat nyamuk yang masih menyisakan sedikit lingkaran hijaunya. Anah, membuka matanya. Perlahan ia bangun dan duduk di kasur sambil meregangkan tubuh gempalnya. Anah menoleh ke sebelah. Mak Uyun masih meringkuk pulas. Anah menggoyang-goyang tubuh Mak Uyun perlahan. “Mak, bangun! Hari ini ke pasar tak?”

Tubuh ringkih dengan kulit mengisut yang terbaring meringkuk di atas kasur butut itu masih diam. Anah menghela napas. Pasti Mak Uyun benar-benar kelelahan, pikirnya. Anah  mengucek matanya berusaha mengusir kantuk yang masih melekat.

“Oaheemmm…”

Anah menguap lebar, berjalan ke arah jendela dan membukanya lebar-lebar. Udara sejuk segera menyerbu kulit. Segar, gumam Anah. Di langit masih ada sepotong bulan menyinari alam, memberi sedikit pencahayaan buat kamar yang gelap. Anah melirik sekilas ke arah jam dinding tanpa kaca yang tergantung di atas pintu kamar. Pukul 3.30 pagi. Anah menguap lagi lalu menggaruk-garuk punggungnya yang gatal. Duh, pasti masih ada kutu busuk yang bersarang di kasurku. Esok sore akan aku periksa lagi, janji Anah dalam hati. Anah keluar dari kamar, menuju kamar sebelah kirinya yang ditempati oleh Tati dan Nana.

Pintu kamar yang tak terkunci di dorong perlahan oleh Anah. Kamar itu sedikit terang, lampu pijar 5 watt membantu mata Anah mengenali seisi kamar. Kasur Tati ada di sebelah kanan, dan Nana di sebelah kiri. Anah bergegas membangunkan keduanya.

“Tati! Nana! Ayok cepat bangun! Udah setengah empat! Nanti tak kebagian jatah pulak kita.”

Tati dan Nana tersentak berbarengan. Sigap keduanya duduk dari tidurnya.

“Hah! Jam berapa, Nah?” tanya Nana.

“Jam setengah empat. Dah, cepat kalian bangun. Aku mau tahajud dulu.” Anah keluar dari kamar Nana dan Tati, menuju kamar mandi yang terletak di luar rumah mereka. Rumah petak dengan dua kamar, dapur kecil dan ruang tamu. Mereka sengaja mengontrak beramai-ramai untuk menghemat ongkos. Anah menyapukan air dingin ke sekujur wajah. Seketika kesegaran menyerbu segenap indra. Anah diam sejenak, meresapi kesejukan yang ia rasakan. Setelah itu Anah melanjutkan wudhunya. Lanjutkan membaca “[Cerita Pendek] Perempuan Perempuan Pasar”