[Flashfiction] Sampan Tak Sampai

foto : bornraisedntrap.blogspot.com
foto : bornraisedntrap.blogspot.com

Fajar sebentar lagi menjelang. Gegas kudayung sampan menuju dermaga. Kantuk semakin menguasai kepala. Aku harus segera sampai ke tempat pelelangan ikan, menjual seluruh tangkapan hari ini lalu pulang ke rumah. Mungkin tidur hingga siang.

“Cuma dapat segini, Mis?” Mata Bang Rojak meneliti bumbung ikanku.

“Bulan sedang tinggi, Bang,” jawabku sekenanya.

Bang Rojak sigap menimbang beberapa ekor kakap berukuran sedang, tongkol dan setumpuk udang galah. “Nih duitnya.” Aku menerima uang dari tangan kasar lelaki itu, menghitungnya sejenak lalu menghela napas panjang.

“Makasih, Bang.” Bergegas kuambil sepeda dari gudang penyimpanan lalu mengayuhnya cepat-cepat.

**********

“Mana duitnya, Bang?” Lela sudah berdiri menantiku di ambang pintu sambil menggendong anak kedua kami.

“Abang baru nyampe, La. Seenggaknya kasih teh dan sarapan dulu lah.”

Lela beranjak ke dalam rumah sederhana kami. “Beras habis. Gula habis. Mau masak apa?”

“Kan bisa ngutang dulu di warung Mak Wati.”

“Eeeh, abang enak aja bilang ngutang dulu. Aku yang malu, Bang! Mana duitnya?” Lanjutkan membaca “[Flashfiction] Sampan Tak Sampai”