[Flashfiction] Pohon Keramat

“Jangan ditebang, Kak! Nanti kita kualat.”

Suara Midah terdengar takut. Aku menatapnya lekat.

“Pohon itu sudah kering, Idah. Sudah mati. Lebih baik kujadikan kayu bakar.”

“Tapi, Kak, kata Mamak jangan tebang pohon itu. Ada penunggunya!”

Kulemparkan pandangan ke arah pohon nangka yang meranggas di samping rumah. Benarkah?

Kusimpan kapak yang sedari tadi kugenggam. Akan kutebang pohon itu saat Midah berjualan di pasar dua hari lagi.

******

Malam itu hujan besar mengurung desa kami. Lengkingan petir saling menyahut. Lalu suara ganjil terdengar.

Kraaakkk…..kraaakkk….Bum!!!

Ruang depan rumah kayu kami rata dengan tanah. Pohon besar itu tumbang.

Midah histeris. “Sudah kubilang pohon itu ada penunggunya! Sekarang mereka marah pada kita!”

Aku melirik kapakku dengan masygul.