[Flashfiction] Cinta, Tiga, Luka

Ivan mengerjap berkali-kali. Kegelapan mendadak sirna saat dunianya dibanjiri cahaya. Beberapa kerjap lagi dan dia melihat sosok cantik berdiri di hadapannya dengan memegang kain pembebat. Ivan mengedarkan pandang. Mereka ada di sebuah kamar berkelir putih yang diisi berisi sebuah ranjang, lemari besar, meja , dua buah kursi dan sebuah tong. Tong?

“Van.” Suara perempuan di depannya memutus keheranan.

“Lepaskan aku, Maya!” geram Ivan. Maya tersenyum. “Dengan satu syarat, Van.”

Ivan mendengus. Otot-ototnya meregang berusaha melepaskan diri dari tali yang merekatkan erat tangannya ke sebuah kursi jati. Gagal.

“Apa?”

“Kau harus meninggalkan Farah,” bisik Maya yang kini berdiri di belakang kursi sambil mengelus pipi Ivan. Lelaki itu mengelak. “Dan menikah denganku,” sambung Maya.

“Mimpi!” desis Ivan tajam. Lanjutkan membaca “[Flashfiction] Cinta, Tiga, Luka”