[Flashfiction] Rahasia Pengemis

pengemis

Siang ini matahari tak terlalu garang seperti kemarin. Selapis awan  menyelubungi wajahnya. Angin sepoi berhembus menyegarkan. Di tempat biasa, aku duduk beralaskan selembar tikar usang. Di depanku sebuah kaleng bekas susu teronggok, berisikan beberapa lembar seribuan dan uang recehan. Setiap orang yang lalu-lalang di jembatan penyeberangan ini tak luput dari sapaanku.

“Sedekahnya, Pak. Sedekahnya, Bu.”

Beberapa dari mereka ada yang merogoh saku atau tas untuk mencari uang kecil. Sebagian lagi berlalu tak peduli. Aku tak pernah sakit hati. Sekali dua kali kudengar celotehan mereka.

“Ah, paling cuma pura-pura miskin.”

“Iya, bisa jadi duitnya lebih banyak dari kita.”

Aku hanya menghela napas panjang. Kubetulkan letak kerudung usang di kepalaku. Pada seorang lelaki necis yang lewat aku bertanya. Lanjutkan membaca “[Flashfiction] Rahasia Pengemis”