[Flashfiction] Pengelana Rindu

Jarak Terkutuksketsa oleh Carolina Ratri

Senin, 7 Oktober 2099

Malam ini aku disengat rindu. Tiap pori-pori kulit meremang oleh serbuan rasa yang menggelisahkan. Semakin kucoba menolak, kian gemetar tubuhku. Rindu ini memaksa kakiku beranjak menemuinya. Di tengah derai hujan ditemani sebatang payung, kuketuk pintu laboratoriumnya.

“Bolehkah malam ini, Phil?” pintaku memelas.

Dia mengangkat tinggi sebelah alisnya. “Tidak bisa. Masih butuh perbaikan.” Suaranya kering menusuk harapanku. Aku tahu Phil benar, tapi rindu ini…

“Aku bersedia mencobanya,” kubulatkan tekad. Berharap lelaki separuh baya berbaju putih di depanku ini mengizinkan.

“Lily, aku mengerti perasaanmu. Aku juga bersedia berkorban apa saja. Termasuk nyawa.”

Kutatap dua bola kecoklatan di matanya. Penuh kehangatan. Harapanku melambung sebelum terhempas ke bumi saat bibirnya berujar lagi.

“Tapi tidak kuizinkan. Berbahaya,” putusnya. “Sekarang pulanglah.” Phil menuntunku ke arah pintu. Benakku kacau. Rindu ini….

Entah apa warna rindu itu. Apakah dia selembut biru? Atau sehangat kuning emas? Aku tak tahu. Saat ini warna rindu menggelapkan mataku. Menutup akal logika. Membuat tanganku mengayunkan gagang payung ke tengkuk Phil. Dia mengaduh. Kuhantamkan sekali lagi.

Maafkan aku, Phil. Rindu ini… Lanjutkan membaca “[Flashfiction] Pengelana Rindu”