[Flashfiction] Aku Pembantu Anakku

ilustrasi-pembantu-rumah-tangga-dtc

sumber

Sudah beberapa hari ini kuperhatikan ada yang tak biasa dari Bi Anah. Ia yang semula selalu ceria, berubah drastis menjadi pemurung dan enggan banyak bicara. Setiap aku mengajaknya bicara, ia hanya menjawab seperlunya, lalu segera pergi. Kadang ia menatapku lama sekali.

Perubahan sikap Bi Inah dimulai sejak dua minggu lalu, ketika dua orang berpakaian perawat datang ke rumah kami. Saat itu Papa dan Mama sedang menghadiri resepsi pernikahan kolega ayah di Semarang. Hanya ada aku –anak tunggal mereka- dan Bi Anah yang dipercaya untuk menjaga rumah.

Siang ini kulihat Bi Anah sedang duduk merenung di teras belakang rumah. Aku mendekat dan duduk di sampingnya. Ia menoleh, tersenyum samar, lalu kembali menatap langit.

“Bi…”

Hanya desah napas berat yang terdengar.

“Bibi kenapa?” aku bertanya lagi.

Masih belum ada jawaban.

“Bibi marah sama Kirana? Kirana ada buat salah ke Bibi ya? Kalau iya, Kirana minta maaf Bi?”

Bi Anah menoleh. Menatapku dengan pandangan yang sulit kuartikan. Lanjutkan membaca “[Flashfiction] Aku Pembantu Anakku”