[Flashfiction] Dokumen Terlarang

perpustakaansumber

“Buka pintunya!” perintah Sergei dingin. Ujung pistolnya menekan tengkuk Sofia. Perempuan muda itu tak punya pilihan. Dia mengarahkan mata kirinya ke arah mesin pemindai retina yang dipasang di kanan pintu. Terdengar bunyi mekanis saat seberkas sinar menelusuri mata Sofia. Suara perintah dari mesin terdengar.

“Tunjukkan tanda pengenal.”

Sofia mengeluarkan benda tipis seukuran kartu identitas dan menempelkannya ke bidang kecil di bawah mesin pemindai.

“Diterima.”

“Buka,” perintah Sergei. Sofia mendorong pintu itu hingga terpentang lebar. Terlihat sebuah ruangan dengan rak besar yang dipenuhi buku di sisi kiri dan kanan. Separuh sisi lain di tutupi rak kecil, menyisakan jalur kecil menuju ruangan berikutnya. Sergei memaksa Sofia terus berjalan, melewati sebuah sofa hijau tua yang terlihat nyaman. Sofia ingat, itu sofa favorit kakeknya, Josef. Ketika mereka telah memasuki ruangan berikutnya, keduanya tercekat. Lanjutkan membaca “[Flashfiction] Dokumen Terlarang”

[Cerita Hati] Jidat Gatot Subroto

jidat

sumber

Saya ingat dulu saat masih kanak-kanak, saya dan teman-teman seringkali mendapat sebuah julukan dari teman yang lain. Kadang-kadang julukan yang didapat berdasarkan kondisi anak tersebut semisal si cungkring karena tubuhnya kurus, si botak karena saat itu kepalanya plontos atau si ompong karena…ya tahu sendiri lah. Tapi kadang julukan itu sama sekali tak bisa dimengerti dari mana asalnya.

Yang paling saya ingat, ada seorang teman mendapat nama “tukik” dilafalkan dengan “tuk” dan “ik”. Entah siapa yang mulai, akhirnya panggilan itu melekat hingga sekarang. Padahal nama aslinya cukup bagus : Rully.

Sekali waktu saya pernah bertanya, “Suka nggak sih dengan nama (panggilan) itu?”
Dia menjawab dengan nada pasrah,”Ya nggak suka, ‘kan jelek. Tapi mau gimana lagi, kalian disuruh panggil nama asli nggak mau.”

Deg! Lanjutkan membaca “[Cerita Hati] Jidat Gatot Subroto”