[Berani Cerita #36] Amba Menekan Jiwa

foto : nopindra.files.wordpress.com
foto : nopindra.files.wordpress.com

Malam mencekam, kelam seperti warna darah yang mengering hitam. Amba ringkuk menggigil di balik pintu. Tangannya yang menggenggam parang penyabit rumput lunglai di samping tubuh. Rambutnya berantakan meriap di dahinya yang basah. Keringat dingin mengalir di punggung.

Sunyi.

Mata Amba mendadak terpentang lebar ketika telinganya menangkap suara keras dari luar rumah. Suara menyayat seorang lelaki yang memilukan jantung. Teriakan perempuan memohon ampun. Jerit-jerit kematian. Amba memejamkan mata. Mencoba berdoa pada Yang Maha Kuasa. Bibirnya bergetar dalam harap yang dalam. Sekilas, ada damai menelusup batinnya.

Tapi tak lama.

Jantung Amba memukul keras ketika pintu depan rumah diketuk garang. Lamat telinganya mendengar seseorang memanggil.

Lanjutkan membaca “[Berani Cerita #36] Amba Menekan Jiwa”

[Flashfiction] Menanti Narti

foto : koleksi pribadi RinRin Indrianie
foto : koleksi pribadi RinRin Indrianie

Senja belum lagi tiba. Di sebuah dipan bambu yang terpasang kokoh di dinding rumah Slamet bersila. Di hadapannya ada selembar koran lusuh. Slamet terbata berusaha mengeja salah satu judul berita.

“Te..te.. na.. ga ker..ker..ja…”

Dua kali dia mengulangi kata-kata itu. Masih kurang yakin, dia berteriak memanggil cucunya yang sedang bermain di halaman.

“Ren, ke sini dulu. Bener ndak bacaan Kakek?”

Bocah kecil yang duduk di kelas tiga sekolah dasar itu mendekat. “Coba Kek, dibaca lagi.”

Slamet mengulangi kata itu. Reno mengangguk puas. “Udah bener Kek.”

“Ya sudah, main lagi aja. Kakek mau belajar baca lagi.”

Reno segera berlalu dari beranda. Teman-temannya masih menunggu.

Setengah jam berlalu. Bocah-bocah itu kelelahan. Satu-persatu pulang ke rumah dan menyudahi permainan. Reno berjalan santai mendekati kakeknya yang masih terus belajar membaca.

“Kakek belajar baca supaya bisa baca koran yah?” Reno mencomot sepotong gorengan yang sudah dingin.

“Iya.” Slamet menjawab pendek. Matanya masih menekuri deretan huruf dan bibirnya bergetar mengeja. Lanjutkan membaca “[Flashfiction] Menanti Narti”

[Ulasan Buku] Peneliti Harta : Suka Duka Ksatria Pajak

Peneliti Harta oleh Tommy Tindo

Seberapa jauh kamu tahu tentang kami pegawai pajak, atau lebih khususnya seorang Account Representative (AR) sebagai ujung tombak pengamanan penerimaan lebih dari 70% APBN di negara tercinta Indonesia? Apakah kamu tahu apa saja yang harus kami lakukan untuk menuntaskan segala tugas yang dibebankan negara di pundak kami? Apa saja tantangan yang kami hadapi dalam pelaksanaannya?

Hal-hal inilah yang coba dijelaskan oleh Tommy Tindo, seorang AR yang bekerja di sebuah kantor pajak yang berlokasi di kota kecil di Sumatera Utara. Tommy seolah sedang mengilas balik pengalaman-pengalamannya selama menjalankan tugas. Dan sesuai dengan judul novel itu sendiri, Tommy memfokuskan penceritaannya pada usaha seorang AR bernama Hardiman yang mengabdi di Kantor Pelayanan Pajak Dolok Masihul,  untuk meneliti harta milik seorang pengusaha kaya raya yang patut diduga melapor dan membayar pajak terhutang dengan tidak semestinya. Bernard M Simbolon, demikian nama salah satu Wajib Pajak terkaya di Sumatera Utara, melaporkan pajak terhutangnya demikian kecil -penulis tidak menyebutkan jumlahnya. Hal ini membuat Hardiman mengirimkan surat himbauan kepada Bernard M Simbolon (kemudian disingkat menjadi BM Simbolon) untuk meningkatkan setoran pajaknya menjadi 60 juta. Sayang sekali, usahanya ini mendapat rintangan dari atasannya, seorang Kepala Seksi bernama Mariani, yang diduga erat punya hubungan khusus dengan Landi, seorang wanita yang menjadi ‘penghubung’ antara BM Simbolon dengan Kantor Pajak. Tapi lagi-lagi penulis tidak menjelaskan lebih lanjut seperti apa sebenarnya hubungan antara Mariani dan Landi. Penulis membiarkan pembaca menebak-nebak apa yang sebenarnya pernah terjadi antara keduanya. Lanjutkan membaca “[Ulasan Buku] Peneliti Harta : Suka Duka Ksatria Pajak”