FFRabu – Mertua oh Mertua

mertua

sumber

Sedari dulu sudah kutahu, Ibu mertuaku adalah perempuan yang sangat menyayangi anaknya. Pasalnya, Menur, istriku itu adalah anak tunggal.

“Nur, aku mau bicara soal Ibu.”

Menur mengangkat matanya dari deretan huruf majalah. “Ya, Mas?”

Aku berdeham. “Bisakah kauminta pada Ibu agar tak usah datang lagi?”

Menur sontak berdiri. Matanya menudingku. “Mas tak suka? Kenapa?”

“Aku…tak nyaman.”

“Mas! Ibu cuma sesekali datang! Dia hanya ingin menjengukku!”

“Tapi..”

Kalimatku terhenti saat dari luar kudengar suara langkah kaki mendekat dan berhenti tepat di depan pintu.

“Ibu datang! Masuk saja, Bu!”

Pintu masih tertutup rapat. Hanya wangi melati yang perlahan meruap di sekujur ruangan.

100 kata

[Flashfiction] Penyesalan Ryo

Prompt 91

sumber

Pegang tanganku, Ayah!

***

Aku tengadah. Mataku beradu dengan senyum Ayah. Air mataku terbit.

“Eh, jagoan kok menangis?” Suara bariton menyergap pendengaran. Menelusupi batin.

“Ryo takut,” isakku.

Ayah merentangkan lengan, merengkuhku dalam-dalam. Seketika hangat membungkus tubuh. “Kan ada Ayah di sini.”

Ya, seharusnya aku tak takut. Ayah selalu di dekatku. Tapi..

“Ryo mimpi!” Tercetus juga musabab resah.

Ayah menatapku lekat. “Mimpi apa?”

Dengan kosakata terbatas, kucoba menjelaskan. Aku hanya tahu dalam mimpi Ayah pergi meninggalkanku. Persis di tepi pantai ini. Waktu itu ada ombak besar bergulung. Lidah ombak memagut Ayah, membungkus sosok kokoh itu dalam buih. Lalu menelannya.

“Bukan salahmu, Anakku,” bisik Ayah lembut. Hangat napasnya menyapa gendang telinga. “Ayah selalu memaafkanmu.”

Pandangan mata kami beradu. Mata itu tersenyum, mataku terbawa senyumnya.

“Ayo, kita jalan-jalan!”

Aku melonjak girang. Kami berjalan bersisian. Tangan Ayah menggenggam tanganku. Tanganku menenteng boneka robot dari plastik.

“Ayah! Robo jatuh!” Kulepaskan genggaman Ayah dan bergegas mengejar Robo yang berguling ditarik air laut.

“Ryo! Jangan ke situ! Ombaknya besar. Biar Ayah yang ambil.”

Robo sudah mengambang di air. Ombak menyeretnya makin dalam. Ayah kuyup hingga sebatas pinggang.

“Lihat! Ayah dapat si Robo!” seru Ayah girang. Aku menggigil. Ada ombak besar di belakang Ayah.

“Ayah! Ayah!”

Terlambat. Gulungan ombak telah menelan tubuh Ayah. Ia megap-megap mencari udara. Tangannya menggapai langit. Ayah tidak bisa berenang!

Aku menjerit seperti orang gila. Entah berapa lama aku meraung, memanggil siapa pun yang mungkin mendengar. Ketika kudengar langkah kaki berderap datang, aku keburu lemas. Matahari memanggang kesadaranku.

***

“Sudah, Sayang. Ayah sudah tenang.”

Aku tengadah. Mataku beradu dengan senyum Bunda. Air mataku terbit.

“Ryo yang salah, Bunda! Ryo yang salah!” Dukaku menetes jatuh ke pasir. Kepalan tangan terbuka, menjatuhkan butiran pasir.

“Bunda sudah ikhlas. Kamu juga ya, Ryo.” Senyum Bunda mengembang, menyajikan penawar luka. Bunda menarik tubuhku berdiri, dan mengajakku berlalu dari pantai.

300 kata, untuk Prompt #91

#FFRabu – Kaki-kaki

demi ucok

sumber

Dulu, ada sepasang kaki di atas kepalaku. Kaki-kaki ibuku. Ke mana pun aku pergi, mereka mengikuti. Sering sekali aku merasa terganggu. Kurasakan kaki-kaki itu membelenggu hidupku. Teman-temanku sering mengeluh.

“Kau selalu tak bisa diajak hepi.”

Aku cuma bisa diam. Saat kaki-kaki di kepalaku mengetukkan jemari, aku wajib patuh.

Lanjutkan membaca “#FFRabu – Kaki-kaki”

[Cerita Hati] Surat Cinta untuk Kita

Foto : Carolina Ratri
Foto : Carolina Ratri

“Bang, kayaknya tulisannya bagus. Gimana kalau gabung dengan grup MFF alias Monday Flashfiction?”

Begitulah kurang lebih pujian sekaligus ajakan yang dilontarkan oleh Sulung Lahitani Mardinata suatu hari di awal Mei 2013. Saat itu saya mulai aktif menulis di Berani Cerita dan beberapa kali saya dan Sulung saling berkomentar di cerita-cerita yang kami buat.

Monday Flashfiction? Apa tuh?

Sulung kemudian memberikan sebuah tautan melalui sebuah pesan fesbuk yang kemudian saya diamkan hingga beberapa hari (karena sedang pulang kampung, hehe). Sekian hari kemudian saat senggang saya klik tautan di kotak pesan. Hmm, jadi MFF itu ‘tempat berfoya-foya flashfiction lovers’? Foya-foya gimana sih maksudnya? Rasa ingin tahu menggelitik benak. Mulailah saya menjelajahi ‘rumah’ MFF dan melihat-lihat ‘perabotan’ serta ‘penghuninya’. Sepertinya saya tertarik untuk bergabung. Lanjutkan membaca “[Cerita Hati] Surat Cinta untuk Kita”