[Cerita Pendek] Permainan Takdir [Bagian 2]

Permainan Takdir [Bagian 1]  klik DI SINI

 “Mak, kok nangis? Ada apa?” Midah bertanya khawatir melihatku seperti orang yang mendapat pukulan mental sesudah menerima telepon dari orang tak dikenal. Midah memelukku erat-erat, sebab aku sudah mulai menangis tersedu.

“Firman, Dah…si Firman…” jawabku di antara isak.

“Iya, Firman kenapa, Mak?”

“Kecelakaan.” Tangisku kian keras.

“Innalillahi.”

Midah sontak mengucap. “Gimana kondisinya sekarang, Mak?”

Aku menggeleng. Mengusap airmata yang memenuhi pipi. “Nggak tahu. Tadi polisi yang nelpon cuma bilang kalau bus yang dinaiki Firman kecelakaan. Tabrakan dengan bus lain yang menuju Medan.” Sudah payah kuselesaikan kalimatku. Rasanya aku ingin segera terbang menemui anak lelaki kesayanganku.

“Ya Allah!” Midah mulai ikut menangis. “Yang sabar ya Mak. Semoga Firman nggak kenapa-kenapa. Semoga dia selamat.”

Aku mengangguk-angguk. Hatiku mulai berdoa semoga Firman termasuk ke dalam korban selamat.

“Dibawa ke mana korban-korbannya Mak?”

“Rumah Sakit dr. Fauziah, Bireueun. Dah, antar aku ke sana, Dah. Tolong antar aku.” Aku memohon.

“Iya, Mak. Pasti Midah bantuin.” Midah sigap mengeluarkan ponselnya. Berkali-kali dia menelepon –entah siapa- untuk meminjam mobil. Aku hanya bisa terduduk lemas sambil menangis. Setelah menelepon untuk kesekian kalinya, Midah berkata padaku.

“Bang Rahmad tetangga Midah mau, Mak minjamin mobilnya. Dia juga mau sekalian antar kita ke sana. Soal uang minyak biar Midah yang bayarin. Sekarang Mamak siap-siap dulu. Ganti baju, bawa tas. Mau Midah bantuin?”

Aku menggeleng. “Aku bisa sendiri, Dah. Kau tunggu sebentar yah.”

Aku beranjak dengan lemah menuju ke dalam rumah. Sebelum sampai di kamarku, aku melewati kamar Firman. Kubuka pintu kamarnya, memandangi kamar itu dengan perasaan campur aduk. Ya Allah, kumohon jangan biarkan anakku mati. Selamatkanlah dia, ya Allah. Lanjutkan membaca “[Cerita Pendek] Permainan Takdir [Bagian 2]”