[Semacam Puisi] Tarian Hujan

Hujan kali ini datang terlambat. Gumpal awan sarat melengkapi senja yg menggelap. Tahukah kau aku rindu?

Rindu deraimu entah rinai renyai entah deras lebat. Basuh wajahku, serta beban yg kian larat. Rindu bentakan langit yg buatku sekarat.

Bukan, bukan sekarat sebab nyawa tinggal sekerat. Tapi sekarat menanggung resah teramat berat. Menanti suaramu yg hebat.

Lalu segala kisah penuh resah kadang berdarah kuhamparkan di tanah. Biar resap, biar pecah. Lalu hujan akan lenyapkan kenang. Larut dalam genang. Hilang.

Hujan hilang akal. Bersama angin ia menari. Meliuk memutar memuntir memamah getir. Segala beban punah sudah.

Hujan kini lelah. Wajah langit kian merah. Semburat cahaya hadir. Matahari, dengan sisa tenaga memanjat awan mencoba warnai senja. Lihat senyumnya memenuhi cakrawala.

Lalu beburung terbang rendah. Merentangkan sayap yang tadi lelah. Mengepak, mencuil seiris hangat matahari. Lalu menuju sarang tempat kekasih menanti dengan pelukan.

Mataku terus memejam. Bayangan tadi teramat indah, bahkan untuk indera yg kian lelah. Aku takut jika membuka, nyata kejam merajam.

Hujan masih gila. Angin membuatnya kian gila. Bentakan langit membuatnya semakin gila. Mereka…yang membuat aku gila.

Aku masih menari bersama angin, bersama hujan, dengan mata terpejam.