[Flashfiction] Sang Pencabut Nyawa

sumber : deviantart
gambar : deviantart

Pada sebuah senja yang kering aku datang menemuinya. Lelaki berjubah panjang yang sedang termenung sendiri di bawah sebatang kurma kerontang. Angin mati petang itu. Surya masih perkasa di punggung langit. Kulihat bulir keringat berlomba jatuh di pelipisnya. Tapi sepertinya lelaki itu tak peduli.

“Salam, Tuanku,” aku menyapa. Dia memalingkan wajah mulianya ke arahku. Senyum tulus diberikannya padaku. Saat menjumpainya aku menggunakan wujud yang menyenangkan mata, bukan wujud menyeramkan.

“Salam. Apakah waktuku telah sampai?” Suara lembut berwibawanya menyapa pendengaran. Sejenak aku terdiam. Meski dia telah menebak dengan tepat tujuan kedatanganku, tetap berat rasanya untuk mengiyakan.

“Benar, Tuan.” Akhirnya dengan susah payah maksudku pun terucap. Kutatap dalam-dalam bening wajahnya yang tak menunjukkan perubahan apapun.

“Ah..rupanya begitu. Meski masih sedikit orang yang berhasil kuluruskan jalannya, sepertinya tugasku sudah selesai.” Lanjutkan membaca “[Flashfiction] Sang Pencabut Nyawa”