Tentang Ayah, Tentang Rindu

logo1

11 bulan, 61 tulisan. Mana yang paling berkesan?

Selama kurun waktu 11 bulan di tahun 2014 saya menulis belasan cerpen, puluhan flashfiction, beberapa puisi abal-abal (sehingga saya menamainya ‘semacam puisi’) juga tulisan non-fiksi. Beberapa tulisan non-fiksi ini saya buat untuk memenuhi tantangan lomba menulis atau giveaway baik yang diadakan oleh perorangan maupun perusahaan. Dua atau tiga tulisan fiksi dan non-fiksi saya kemudian terpilih untuk mendapatkan hadiah dari penyelenggara kontes.

Jadi, apakah salah satu dari tulisan pemenang lomba atau giveaway itu yang paling berkesan buat saya?

Enggak.

Betul, setiap tulisan telah saya pikirkan masak-masak pada saat pengerjaannya. Kata-kata saya pilih dengan sebaik-baiknya. Tapi ada satu tulisan yang benar-benar merasuki jiwa pada saat membuatnya. Tandas menguras emosi hingga saya nyaris menangis. Oh, bukan nyaris, tetapi benar-benar menangis. Saya harus menyingkirkan laptop dari pangkuan dan membiarkan tetes-tetes air mata berjatuhan dari pelupuk. Saya sungguh –kembali- merasa hancur.

Tulisan tersebut berupa sebuah cerita pendek berjudul Titip Rindu Buat Ayah. Ya, ini adalah cerita yang saya alami sendiri. Kisah nyata yang pernah menghancurkan hati. Melumpuhkan daya hidup. Membuat saya merasa mati.

Lanjutkan membaca “Tentang Ayah, Tentang Rindu”

[Cerita Pendek] Arti Hidup Dalam Secangkir Kopi

life-is-like-a-cup

sumber

Life is like a cup of coffee.

Kalimat bernada filosofis itu aku temukan di sebuah warung kopi di tepi jalan kecil yang dirindangi dahan  pohon mangga. Ditulis dengan huruf besar-besar berwarna merah tua di atas kertas karton dan dipajang di bagian belakang meja racik. Di bawah tulisan itu, si penjual kopi menyiapkan minuman racikannya. Ada pula deretan kopi instan sachet bergantung rapi di dinding. Di sebelah kanan lelaki muda itu sebuah kompor terus menyala dengan api kecil, sementara di depannya terdapat penyaring bubuk kopi, dan gelas-gelas bersusun rapi.

“Pesan apa, Bang?” seorang remaja pria mendekat. Aku mengalihkan pandangan dari slogan di dinding dan kesibukan di bawahnya.

“Kopi. Tanpa gula.”

Remaja itu mengangguk lalu berlalu. Aku melangkah menuju meja di dekat jendela. Tak sampai semenit kemudian remaja berambut ikal itu telah kembali dengan sepiring kue. “Kopinya sebentar lagi, Bang.”

Aku mengangguk.

Mataku mengembara. Menjelajahi sudut-sudut warung kopi sederhana ini. Dindingnya masih tampak baik, meski warna hijaunya mulai pudar. Beberapa gambar artis tahun 90-an terpampang. Sebagian besar tak kukenali namanya. Meja dan kursi terlihat masih baru, mungkin belum setahun diganti. Meja-meja terisi dengan dua atau tiga lelaki setengah baya yang mengobrol akrab sambil menyesap secangkir kopi atau mengunyah kue.

Jadi seperti inilah tempat favorit Ayah.

Ah, Ayah.

Lanjutkan membaca “[Cerita Pendek] Arti Hidup Dalam Secangkir Kopi”