Kasih Tak Sampai

kasih-tak-sampai

sumber

Dua pasang mata kita bersua; berbicara dalam bahasa yang tak teraba.

“Kau cantik,”pujiku tulus.

Dia menengadah, menahan laju bening di matanya yang akan tumpah.

“Zain…”

“Ssst.. jangan menangis, Nira. Nanti bedaknya luntur. Hilang deh cantiknya.” Aku tertawa.

Lanjutkan membaca “Kasih Tak Sampai”

[Flashfiction] Tangga Menuju Surga

foto : portalserbaada.blogspot.com
foto : portalserbaada.blogspot.com

Kabut menggantung tipis di udara. Kegelapan masih menyelimuti bumi meski sebentar lagi pagi tiba. Kulirik jam di tangan, hanya tersisa beberapa menit lagi sebelum sinar matahari pertama menepis lapisan serupa asap itu. Aku memandang ke atas, ke arah deretan lempeng besi kecoklatan yang tersusun rapi. Entah sudah berapa ribu undakan yang kujejaki. Dengus napasku terdengar kian keras, butiran keringat berhamburan di dahi. Usia telah menggerogoti kekuatanku. Kutepuk-tepuk celana untuk mengusir titik embun yang hinggap. Topi di kepala kueratkan. Setelah mengambil napas dalam dan menguatkan tekad, kakiku kembali melangkah.

Dan lihatlah di ujung anak tangga sana, sesosok tubuh semampai telah berdiri tegak. Berbalut jaket tebal, topi dan syal pengusir dingin, menatap lurus kejauhan : Alamea.

“Kai?” Dia menyadari kehadiranku. Tapi kakinya tak beranjak, tangannya masih memegangi pipa besi. Lanjutkan membaca “[Flashfiction] Tangga Menuju Surga”

[Flashfiction] Cinta Sejati

foto : tatacinta.com
foto : tatacinta.com

Siapakah pemilik sejatinya cinta?

Satu pertanyaan yang sama. Ribuan suara. Semua berdengung serempak di dalam kepala. Melly meremas rambut panjangnya. Matanya nanar menatap langit-langit kamar.

Tentu saja Tuhan!

Melly memejam. Satu wajah tampan terbayang di pelupuk. Melly tersenyum. Ah, wajah itu. Menerbitkan cercah senyum meski tak melihatnya langsung. Menimbulkan rasa sayang meski tangan tak bisa bertautan. Sebab sepasang tangan lain telanjur jadi pautan.

Jadi, salah siapa jika cinta di hati tumbuh untuk lelaki yang tak bisa dimiliki? Salah Tuhan?

Melly mengusap airmata yang tiba-tiba menderas di pipinya. Batin ini tersiksa, keluhnya. Kenapa aku tak bisa mencintai lelaki lain? Melly menggelengkan kepalanya kuat-kuat. Mencoba mengusir penat yang membebat benak. Usahanya sia-sia. Melly menyerah. Dia memejamkan mata. Pikirannya melayang-layang. Lanjutkan membaca “[Flashfiction] Cinta Sejati”

[Semacam Puisi] Ternyata Bukan Cinta

ternyata bukan cintaLalu kusadari sesuatu yang berbeda, tentang cinta yang kian sirna. Ketika kubaca oceh celotehnya, tapi tak timbul riak di dada, meski setitik jua. Mungkin memang sudah waktunya.

Lalu mesti kuterima ada yang telah menjelma nyata, ternyata yang kusangka cinta bukanlah cinta, saat kudengar kisah lamanya, dan tak terbetik cemburu di dada. Sedangkan kata-katanya penuh bara, sarat romansa.

Lalu entah kemana hendak kularungkan rasa-rasa yang dulu jadi siksa. Entah dengan cara apa kubungkam jerit-jerit dalam jiwa. Atau mestinya semua disimpan saja, nanti juga akan tiada.

Lalu langkah kaki lesu menapak. Mencari-cari di balik tegak tubuh-tubuh kaku. Di sela bibir-bibir biru, satu kata yang dulu dirindu. Meski dulu yang kumau kata itu terbit dari bibirmu.

Lalu tinggal segumpal harap. Didekap erat bagai memeluk kekasih yang setia, yang tak beranjak meski selewat. Dijaga lekat agar tak ikut lenyap. Karena tinggal harap, yang memberi kuat.

Langit memang masih gelap. Tapi ada yakin yang kokoh, membatu padat. Esok, matahari kembali perkasa, mengusir gelap di jiwa.

[Cerita Pendek] Kekasih, Tunggu Aku Di Pintu Surga

pintu surgaPukul 11.30 malam. Langit malam begitu hitam. Bulan dan bintang bersembunyi di balik kelambu awan. Keheningan terasa begitu mencekam jiwa. Di luar rumah tua dan kosong tempat mereka bersembunyi hanya terdengar suara jangkrik dan sesekali suara katak yang ribut menanti hujan. Rumah itu sendiri terletak di ujung sebuah jalan kecil, di dalam gang yang tak terlalu lebar. Rumah terdekat berjarak sekitar 50 meter dari rumah itu. Rumah kosong itu dihiasi sesemakan rimbun dan sebatang pohon mangga besar dan rindang yang menambah kesan seram. Beberapa papan di dinding sebelah kanan dan kiri tampak rapuh. Namun bagian depan rumah masih utuh, dengan pintu dan jendela yang tampak kokoh.

“Gimana keadaan di luar, Danar?” Rana berbisik. Ia mengenakan kaus biru, sweater hitam dan celana jeans warna biru muda. Di depannya hanya ada sebatang lilin yang menyala redup, sesekali siur angin meliukkan nyala lilin. Ada dua nasi bungkus di dekat mereka, teronggok begitu saja sebab tampaknya tak ada yang merasa lapar. Ruangan tempat mereka duduk dulunya adalah kamar yang cukup luas, terletak agak di belakang rumah. Lantai ruangan sudah dibersihkan sekadarnya dengan kain bekas yang ada di lemari usang di kamar samping.

“Ga ada orang, Mbak.” Lelaki muda yang mengintip dari jendela menyahut pelan. Wajah remajanya tampak kuyu. Keletihan yang begitu dalam membayang di bola matanya.

“Danar.” Panggil Rana pelan. Remaja itu menoleh. “Duduklah di sini.” Ia menurut.

“Ya, Mbak?”

“Kau mencintaiku?”

“Mbak! Kenapa masih tanya seperti itu? Jelas aku mencintaimu!” Danar mendadak gusar.

“Tenanglah, Sayang, jangan marah. Aku hanya ingin memastikan. Aku menyesal sekali telah membuat keadaanmu jadi seperti sekarang ini. Semestinya saat ini kamu menyiapkan diri untuk mulai kuliah, jalan bareng teman-teman kamu, menikmati dunia remaja. Tapi–” Lanjutkan membaca “[Cerita Pendek] Kekasih, Tunggu Aku Di Pintu Surga”