[Flashfiction] Penunggu Kamar Mayat

foto : uniknya.com
foto : uniknya.com

“Nek, aduh akika susah jalannya niih. Banyak pecahan batu,” Tammy menggerutu pelan. Lelaki gemulai bergaun merah menyala yang dipanggil ‘nek’ menempelkan telunjuknya di bibir.

“Ssst, yeyy jangan berisik deh. Mau itu petugas trantib nemuin kita?” Mantili mengintip ke luar jendela. Berkas-berkas sinar senter tampak berkelebat. Derum mobil terdengar meningkahi. Sebuah berkas sinar tepat lurus mengarah ke jendela. Sigap Mantili menunduk.

“Ssst, pindah! Pindah!” Mantili berbisik pada Tammy. Tammy yang sedang berjongkok di pojok mendelik. Matanya bertanya, “Kemana?”

Mantili tak menjawab. Masih dengan menunduk dia bergerak makin ke belakang bangunan tua yang telah lama ditinggalkan ini. Tammy mengikuti sambil menenteng high heels.

“Capcus!” Mantili berdesis. Tammy cuek.

“Eh, kita di mana nih?” bisik Mantili ketika mereka sampai di sebuah ruangan. Tammy cemberut. “Akika mana tahu? Yeyy yang bawa kita ke mari.” Lanjutkan membaca “[Flashfiction] Penunggu Kamar Mayat”