[Cerita Pendek] Kamar Ibu

foto : rumahsewajogja.net
foto : rumahsewajogja.net

“Jangan dibongkar!” jerit Ranti panik. Dadanya sesak oleh kesedihan melihat dinding kamar ibunya mulai dihantam godam. Serpihan-serpihan semen dan bata bertebaran di lantai. Udara dipenuhi debu yang memerihkan mata. Dua lelaki pekerja itu hanya menatapnya sejenak lalu melanjutkan tugas mereka.

“Sudah, sudah, Ranti. Relakan saja. Sudah nasib kita begini,” di sebelah gadis remaja itu seorang lelaki berdiri kaku. Tangan kanan pria bernama Dany itu memegang erat tangan adiknya agar tidak menghambur menghalangi proses perubuhan itu. Matanya disaput kegeraman, dan kekalahan. Seandainya saja mereka memiliki pembela. Tapi tidak…kali ini tak ada yang membela.

“Jadi kan kalian bisa lihat kalau rumah Uwak sudah nggak muat lagi. Itu cucu-cucu tiap malam tidurnya berdesak-desakan. Kasihan,” dua hari lalu Wak Bari berbicara empat mata dengan Dany. Pria muda itu terkesiap mencoba menebak arah pembicaraan Uwak.

“Uwak punya rencana mengambil kamar ibumu buat Uwak,” kata Wak Bari datar. Dany tertegun. Mengambil? Lanjutkan membaca “[Cerita Pendek] Kamar Ibu”