Aku Benci (Jadi yang Kedua)

banner mff 2 tahun

Semuanya terbayang lagi.

Decitan ban menggigit aspal, teriakan orang-orang di trotoar, suara benturan logam dengan benda lunak, dan – yang menggiriskan- sesosok tubuh melayang di udara diiringi jerit kematian menggedor jantung. Tubuh itu menghantam aspal setelah gravitasi berhasil menariknya. Darah mengalir. Sebuah kehidupan telah pergi.

Khanza mengeratkan kelopak matanya. Tidak! Tidak!

“Khanza.” Sebuah tepukan mendarat di bahu. Khanza mengerang.

“Pergi!” Khanza meradang. Penepuknya mundur tapi tak pergi. Perempuan muda berbaju putih itu mengeluarkan selembar foto.

Lanjutkan membaca “Aku Benci (Jadi yang Kedua)”