Cerfet #MFF : Gerimis Kala Senja

foto : qelasilyas.wordpress.com
foto : qelasilyas.wordpress.com

cerita sebelumnya:
– BAGIAN PERTAMA
– BAGIAN KEDUA

Ratih mendekap buku harian usang di dadanya penuh perasaan . Sesekali dihelanya napas panjang dan dalam. Alya menanti dengan sabar. Pasti yang akan diceritakan ibunya adalah sebuah kisah yang sangat membekas dalam hatinya.

“Bu, jika menceritakan kisah ini justru mengembalikan luka di hati Ibu, lebih baik tidak usah saja.”

Alya menatap mata Ibunya yang mulai berkaca. Ratih menggeleng, mengusir butiran bening di pelupuk. “Tak apa, Al. Ibu cuma perlu waktu untuk menguatkan diri.”

Ratih tersenyum. “Kejadian itu sudah sangat lama berlalu. Nyaris tak ada istimewanya kisah cinta kami berdua. Bertemu pertama kali saat magang di sebuah perusahaan setamat kuliah. Lalu tanpa disadari cinta sudah tumbuh. Kami begitu bahagia saat itu. Sampai ketika kakekmu mengetahui hubungan kami. ”

Air muka Ratih mendadak keruh. Lanjutkan membaca “Cerfet #MFF : Gerimis Kala Senja”

[Cerita Pendek] Hujan Pasti ‘Kan Reda

Reda Hujan“Mak, beras habis.”

Aku mengangkat kepalaku yang masih terasa sedikit pusing. Kuraba dahiku.  Benjolan sebesar telur ayam akibat terbentur saat terpeleset di kamar mandi tadi pagi sudah mengempis. Hhh…aku harus sering-sering menyikat lantainya, gumamku dalam hati. Kulirik jam di atas pintu, pukul satu siang. Jadi aku sudah tertidur lebih dari dua jam! Aduh! Aku belum masak apa-apa!

“Mak..”

Kulihat Nisa berdiri di ambang pintu memegang wadah plastik tempat beras. Isinya hanya tinggal beberapa jumput lagi. Pasti tadi karena melihat nasi belum dimasak, Nisa mengambil inisiatif. Biasanya saat pulang siang, Nisa yang duduk di kelas lima Sekolah Dasar dan adiknya Abdul yang masih kelas tiga tinggal membuka tudung saji dan menyantap makanan. Tapi siang ini…

“Gimana, Mak?”

“Nis, coba ke rumah Wak Rahmi. Bilang sama Uwak, kita pinjam beras dua bambu*. Mamak bayar kalau udah gajian. Eh, adikmu mana?”

“Lagi tidur, Mak. Katanya kecapekan main.”

“Ya udah, ke tempat Uwak sekarang ya.”

Nisa mengangguk dan berlalu menuju rumah Kak Rahmi, saudara sepupu almarhum suamiku. Ah, semoga suasana hatinya sedang baik. Aku melangkah perlahan menuju dapur. Kulihat-lihat bahan masakan yang masih ada. Hanya ada seikat sayur bayam, beberapa potong wortel dan kentang. Lalu ada sedikit cabe merah dan bawang merah serta beberapa bumbu dapur lain. Kulirik rak bagian bawah lemari, ada tiga butir telur ayam terletak di situ.

“Ah, syukurlah. Cukup buat kami bertiga hari ini,” gumamku. Lanjutkan membaca “[Cerita Pendek] Hujan Pasti ‘Kan Reda”