[Flashfiction] Cermin Air

Darmin menggeleng-gelengkan kepalanya ke kiri dan ke kanan. Cermin air di bawahnya masih belum menampilkan bentuk terbaik yang ia inginkan. Kadang wajahnya terlihat penyok, kadang beriak membentuk lingkaran yang kian membesar, dan sesekali tampak sempurna ketika air mengalir begitu tenang. Saat itu baru Darmin merasa puas.

Bukan sekali dua kali keluarga Darmin melarangnya pergi ke sungai. Tapi Darmin selalu bersikeras pergi atau malah mengamuk. Akhirnya keluarganya mengalah. Mereka hanya mengawasi dari kejauhan.

******

Sudah seminggu ini Darmin uring-uringan. Memasuki musim penghujan, cermin air kesukaannya kini mulai keruh. Ia tidak lagi bisa berkaca. Istrinya berusaha membujuk.

“Nanti kita cari pinjaman ya, Pak. Lalu bapak nyalon lagi. Kali ini pasti menang.”

Wajah Darmin berbinar.