[Berani Cerita #22] Tangga Cahaya

pintu surga

Sukmaku bergetar. Kaki-kakiku lemah seakan tak mampu menyangga tubuh. Aku menangis, hanya ingin menangis. Dada ini sesak penuh haru yang mendesak.

“Naiklah, wahai insan.” Makhluk cahaya yang tadi menyambutku di sini mempersilakan. Aku menatap dia yang diselubungi warna cemerlang. Keharuman menyeruak dari sosoknya. Senyumnya begitu teduh.

“Alhamdulillah, ya Ridwan. Alhamdulillah.” Aku mengucap syukur. Kurapatkan pakaian sutera yang menghiasi tubuh mudaku sebelum melangkah. Terbentang dalam jangkauan mata sebuah tangga mahaluas. Undakan bercahaya yang tiap anak tangganya memendarkan kelembutan. Kepalaku tengadah, menatap pada satu titik di anak tangga teratas, sebuah tempat yang sejak di dunia dulu selalu jadi idaman.

“Firdaus,” aku mendesah, senyumku merekah. Pandanganku tak berkedip pada gemerlap cahayanya. Dari tempatku berdiri bisa kudengar suara nyanyian yang demikian lembut merayu kalbu. Pun bisa kuhirup wangi kasturi yang memabukkan indera.

Ingatanku kembali pada masa-masa hidup di dunia. Tahun-tahun yang kulalui dengan usaha untuk mendekatkan diri pada Sang Mahacinta. Mengumpulkan pahala, mereduksi dosa. Berhaji berkali-kali, bersedekah kepada yang membutuhkan, menjadi orangtua asuh, sampai menyingkirkan duri di jalan. Dan inilah ganjaran sepadan yang aku dapatkan.

“Bismillah.”

Kulangkahkan kaki menaiki undakan pertama. Kakiku seolah menyentuh beludru, demikian lembut membelai kulit. Kulangkahkan lagi sebelah kaki menaiki undakan kedua. Aku kini sungguh tak sabar hendak menjangkau firdaus di ujung undakan. Mengecap segala kenikmatan yang Tuhan janjikan. Aku siap untuk berlari. Namun satu suara menghentikanku.

“Ayah!” Lanjutkan membaca “[Berani Cerita #22] Tangga Cahaya”