[Cerita Pendek] Seandainya Kita Tak Pernah Bertemu

seandainya 2

“Ssst..lihat tuh Mbak Emma. Pasti mau bikin hal yang sama kayak kemarin-kemarin.”

“Iya, yah. Kasihan juga ngelihat dia kayak gitu terus. Sejak pindah ke mari, kelakuannya makin aneh. Banyak yang ngeliat dia ngomong sendiri di kuburan. Aku dengar sih, gara-gara kejadian di tempat asalnya dulu.”

“Kejadian apa sih?”

“Kau belum pernah dengar?”

“Kalau aku tahu, pastilah aku enggak nanya ke kamu.”

“Jadi, yang kudengar itu ceritanya seperti ini….”

**********

Kubereskan barang-barang yang menumpuk di depan toko kelontong. Seorang pekerja membantuku mengangkati kardus-kardus ke dalam toko. Senja telah jatuh ke ufuk barat. Sia-sia jemari cahaya mencakari langit, berusaha mempertahankan sinarnya di seluruh alam. Kegelapan perlahan mengambil alih kekuasaan. Huft, ini kotak air mineral terakhir yang mesti diangkat.

“Dudi, tolong yang ini letakkan di bagian paling luar. Berat. Biar besok tidak terlalu repot memindahkannya.” Dudi pekerja kami mengangguk.

“Sudah semua, Mbak. Saya pulang dulu ya.” Aku mengiyakan. Dudi beranjak menuju sepeda motor yang ia parkir di sebelah kiri toko, menyalakan mesin dan segera berlalu. Tepat ketika aku akan menutup pintu toko, seseorang tiba di depanku.

“Maaf, Mas. Kami sudah mau tutup. Sebentar lagi maghrib.”

“Sebentar saja ya, Mbak. Perlu banget nih.”

Kualihkan pandangan ke belakang. Ayah menatapkuĀ  sambil menggeleng. Aku tahu maksudnya. Ayah seolah berkata, ” Biarkan dia masuk, Emma. Mungkin dia akan jadi pelanggan tetap toko kita.” Hufft…aku mengalah. Memberikan ruang bagi lelaki itu untuk masuk. Kututup seluruh pintu toko, hanya menyisakan sebuah celah untuk lelaki itu keluar nanti.

Lelaki itu rupanya tak memerlukan waktu lama. Dalam lima menit, beberapa barang telah ia pilih dan ia bawa ke meja kasir. Saat aku akan masuk ke bagian dalam toko kami yang sekaligus merupakan rumah tinggal, ayah memanggil.

“Emma, tolong layani Mas ini. Ayah perlu ke kamar mandi sekarang. Tinggal membayar saja, kok.”

“Iya, Yah.” Kulangkahkan kaki menuju meja kasir. Sebuah senyuman kusiapkan. Tidak susah. Senyuman standar semacam ini sudah kulatih setiap hari. Selelah apapun keadaanku, aku harus ramah kepada pembeli. Lanjutkan membaca “[Cerita Pendek] Seandainya Kita Tak Pernah Bertemu”