[Cerita Pendek] Karena Ibu Melihat dengan Cinta

ibu dan anaknya

sumber

Ruang bersalin Rumah Sakit Harapan Ibu kini terasa sedikit lega. Suara-suara riuh dokter dan perawat yang tadi memenuhi udara, kini sudah tak ada lagi. Teriakan kesakitan perempuan yang sedang melahirkan pun sudah reda. Seorang perawat setengah baya dengan telaten membersihkan si bayi yang menjerit-jerit. Mungkin kedinginan, mungkin juga sebagai tanda protes sebab kenyamanannya bergelung di rahim ibu terenggutkan.

Seorang perawat lainnya sedang membersihkan tubuh si ibu. Perempuan itu masih terlihat lemah. Rambutnya sedikit awut-autan. Raut kesakitan masih membayang di wajahnya. Matanya menerawang jauh. Entah apa yang dipikirkannya.

“Selamat ya, mbak. Bayinya lahir selamat, tak kurang sesuatu pun.”

“Makasih, Sus.”

“Sudah siapkan nama buat si kecil?”

“Belum.”

Lalu ada jeda yang panjang. Kedua perempuan itu memilih diam, sibuk dengan pikiran masing-masing. Suster berjilbab itu mengenang kembali saat-saat kedatangan perempuan itu ke rumah sakit. Perempuan yang tertatih menuju ruang bersalin, memegangi perutnya yang membuncit. Tak ada yang menemaninya kecuali seorang lelaki tua. Tetangga depan rumah, katanya.

“Kemana suaminya, Pak?” tanya suster.

Lelaki itu hanya mengedikkan bahu.

“Keluarganya?” Lanjutkan membaca “[Cerita Pendek] Karena Ibu Melihat dengan Cinta”