[Flashfiction] Tangga Menuju Surga

foto : portalserbaada.blogspot.com
foto : portalserbaada.blogspot.com

Kabut menggantung tipis di udara. Kegelapan masih menyelimuti bumi meski sebentar lagi pagi tiba. Kulirik jam di tangan, hanya tersisa beberapa menit lagi sebelum sinar matahari pertama menepis lapisan serupa asap itu. Aku memandang ke atas, ke arah deretan lempeng besi kecoklatan yang tersusun rapi. Entah sudah berapa ribu undakan yang kujejaki. Dengus napasku terdengar kian keras, butiran keringat berhamburan di dahi. Usia telah menggerogoti kekuatanku. Kutepuk-tepuk celana untuk mengusir titik embun yang hinggap. Topi di kepala kueratkan. Setelah mengambil napas dalam dan menguatkan tekad, kakiku kembali melangkah.

Dan lihatlah di ujung anak tangga sana, sesosok tubuh semampai telah berdiri tegak. Berbalut jaket tebal, topi dan syal pengusir dingin, menatap lurus kejauhan : Alamea.

“Kai?” Dia menyadari kehadiranku. Tapi kakinya tak beranjak, tangannya masih memegangi pipa besi. Lanjutkan membaca “[Flashfiction] Tangga Menuju Surga”

[Semacam Puisi] Sedalam Apa Kau Kenal Cinta?

kenal cinta 2Siapa bisa salahkan cinta. Bila ia hinggap lalu mengakar di tempat yang tak biasa, bahkan -mungkin- tak seharusnya.

Siapa mampu salahkan cinta, jika ia membuai dua hati, hingga lupa dunia sekitarnya. Lupa norma-norma.

Siapa berhak menghujat cinta, ketika tak berbalas, lalu ia berubah angkara.

Sungguh tak pantas menyalahkan pencinta, jika belum pernah merana sebab cinta tak berbalas cinta.

Mengertilah, jika pencinta berubah jadi pemurka sesungguhnya ia tengah merana, tepat di jantung jiwanya.

Siapa mengerti arti sakit hati, saat yang dicinta tak lagi merasa yang sama?

Siapa tahu pilu yang meremas kalbu, kala dia yang kau anggap satu, ternyata telah belajar melupakanmu.

Siapa mampu menyangkal derita jiwa, saat yang dicinta berhasil lupa akan cinta yang dulu dikira sebesar dunia.

Pernahkah kau mengira, kalau dia kan sirna? Walau kau tak percaya, dengan sepenuh jiwa. *

Kehilangan cinta dari seseorang yang dicinta, ah…sakitnya..

*penggalan lagu Letto ~ Memiliki Kehilangan