Sakura Gugur di Hati Safira

pohon-bunga-sakura-di-taman

sumber

Kuntum sakura luruh satu-satu. Tersemat di tangkai atau terhampar di tanah, bunga itu tetap saja indah. Ditingkahi semilir hangat angin musim semi di awal April, sore ini adalah sore yang sempurna. Tapi  wajah Safira disaput mendung. Sakura yang baru pertama kali ia lihat tak sanggup mengusir murung. Dafa yang berjalan di sebelahnya melirik sekilas.

“Senyum dong, Fira. Nikmati dulu keindahan Taman Ueno,” tegurnya. “Nanti kita susul teman-teman di Ginza.”

“Gara-gara kamu kelamaan foto-foto di Yushima Tenjin Shrine,” gerutu Safira. Bukan karena itu! tolak hati kecilnya.

“Lihat sisi baiknya. Kita bisa jalan berdua aja, kan? Di tengah lautan sakura, pula. Romantis!” Dafa berseru kecil, lalu terbahak.

Safira menelan bahagia yang sempat mekar di dada. Dia menyadari Dafa hanya bercanda.

“Hei, kau lelah? Duduk,  yuk!” ajak Dafa saat melihat wajah muram Safira.

Safira mengangguk. Mereka duduk diam di bangku taman. Keduanya hanya melemparkan pandangan pada pasangan-pasangan yang tengah melakukan hanami. Bersama orang-orang dekat, semua terlihat bahagia.

“Fira.”

“Ya?”

“Kau diam sekali?”

“Aku?”

Dafa mengangguk. “Aku merasakannya sejak tadi malam. Sejak aku membuat pengakuan padamu.”

Lanjutkan membaca “Sakura Gugur di Hati Safira”

[Flashfiction] Cinta, Tiga, Luka

Ivan mengerjap berkali-kali. Kegelapan mendadak sirna saat dunianya dibanjiri cahaya. Beberapa kerjap lagi dan dia melihat sosok cantik berdiri di hadapannya dengan memegang kain pembebat. Ivan mengedarkan pandang. Mereka ada di sebuah kamar berkelir putih yang diisi berisi sebuah ranjang, lemari besar, meja , dua buah kursi dan sebuah tong. Tong?

“Van.” Suara perempuan di depannya memutus keheranan.

“Lepaskan aku, Maya!” geram Ivan. Maya tersenyum. “Dengan satu syarat, Van.”

Ivan mendengus. Otot-ototnya meregang berusaha melepaskan diri dari tali yang merekatkan erat tangannya ke sebuah kursi jati. Gagal.

“Apa?”

“Kau harus meninggalkan Farah,” bisik Maya yang kini berdiri di belakang kursi sambil mengelus pipi Ivan. Lelaki itu mengelak. “Dan menikah denganku,” sambung Maya.

“Mimpi!” desis Ivan tajam. Lanjutkan membaca “[Flashfiction] Cinta, Tiga, Luka”

[Flashfiction] Cinta Sejati

foto : tatacinta.com
foto : tatacinta.com

Siapakah pemilik sejatinya cinta?

Satu pertanyaan yang sama. Ribuan suara. Semua berdengung serempak di dalam kepala. Melly meremas rambut panjangnya. Matanya nanar menatap langit-langit kamar.

Tentu saja Tuhan!

Melly memejam. Satu wajah tampan terbayang di pelupuk. Melly tersenyum. Ah, wajah itu. Menerbitkan cercah senyum meski tak melihatnya langsung. Menimbulkan rasa sayang meski tangan tak bisa bertautan. Sebab sepasang tangan lain telanjur jadi pautan.

Jadi, salah siapa jika cinta di hati tumbuh untuk lelaki yang tak bisa dimiliki? Salah Tuhan?

Melly mengusap airmata yang tiba-tiba menderas di pipinya. Batin ini tersiksa, keluhnya. Kenapa aku tak bisa mencintai lelaki lain? Melly menggelengkan kepalanya kuat-kuat. Mencoba mengusir penat yang membebat benak. Usahanya sia-sia. Melly menyerah. Dia memejamkan mata. Pikirannya melayang-layang. Lanjutkan membaca “[Flashfiction] Cinta Sejati”

[Semacam Puisi] Aku Cinta Kamu, Tapi Kamu Tidak.

kau tidak cintaKau bilang, sehabis hujan akan muncul pelangi indah, kesukaanmu. Sebab itukah kau sering membuatku menangis? Adakah pelangi kau temui di mataku?

Dalam sepi yang hening, butiran doa kujalin sebagai tasbih. Setiap tiga doa, satu kubisikkan atas namamu. Agar kau cinta aku, meski kau tak mau.

Manusia, tempat lemah bersemayam. Dengan apa yang masih kupunya, kuupayakan segala cara agar kau cinta. Maukah kau mencoba hal yang sama?

Aku belum lagi lelah berusaha. Tiap melemah tenaga, kupecut semangat agar membara, menyadari bahwa cinta memang berat pengorbanannya.

Jika memang kau inginkan, aku akan berpura-pura tak kehilangan, agar kau tak perlu merasa bersalah karena telah pergi meninggalkan.

Setiap kali engkau pergi, pada ladang hati kusemai benih air mata. Sampai ketika kau tak kembali, duka kupetik dari tanah yang lara.

Sesekali, izinkanlah aku yang pergi. Aku hanya ingin tahu, mana yang lebih memberi perih di hati, meninggalkan atau ditinggalkan?

Entah apa yg membuatku masih bertahan menunggumu. Sejumput harapan ataukah keyakinan yang teramat dalam bahwa cinta bisa diperjuangkan?

Seseorang pernah bilang, akan tiba waktunya untuk kita belajar merelakan. Benarkah sudah datang saatnya aku merengkuh kenyataan?

Aku lelah. Kurasa sekarang saatnya belajar melupakan. Segala hal tentang kita. Cerita yang sebenarnya tak pernah ada.