[Cerita 17] Labirin Cinta Semu

foto : windidwirexisworld.blogspot.com
foto : windidwirexisworld.blogspot.com

Seorang lelaki yang tak bertemu istrinya selama seminggu, mestinya akan begitu bergairah. Hasratnya akan menggebu hendak menuntaskan rindu yang terpendam. Seluruh sel tubuhnya akan meneriakkan gejolak yang menghentak. Dan tanpa menunggu waktu, dia akan meminta perempuannya untuk bersama mengarungi sungai kenikmatan. Menggetarkan peraduan. Memadu perasaan. Tapi tidak dengan suamiku. Suami yang menikahiku enam bulan lalu.

“Capek, Mas?” Dara menatap Vino suaminya dengan matanya yang sayu. Lelaki tampan di hadapannya mengangguk pelan. Pekerjaan Vino sebagai pegawai sebuah instansi pemerintahan mengharuskannya menempuh perjalanan selama enam jam. Dara tak ikut pindah bersama Vino sebab kariernya sedang menanjak. Mereka sepakat untuk tinggal terpisah.

Dara menghela napas panjang. Dia berjalan mengiringi Vino menuju kamar. Di atas ranjang sudah dia siapkan pakaian ganti. Di kamar mandi air panas sudah tersedia. Di meja makan masakan kesukaan Vino masih mengepulkan uap.

Setelah mandi dan makan, Vino dan Dara duduk santai di depan televisi. Dara sengaja merapatkan tubuhnya ke tubuh Vino. Baju tidur seksi yang dipakainya tak mampu menyembunyikan sebagian besar dadanya yang putih. Juga pahanya yang menggairahkan. Dara mengibaskan rambut panjang ikalnya yang beraroma bunga. Sesekali tangannya mengelus dada Vino yang bidang.

Tak ada reaksi yang diharapkan. Vino masih memandang jauh ke dalam televisi. Lanjutkan membaca “[Cerita 17] Labirin Cinta Semu”

[dia] [lo] [gue]

 

  • “Adek mencintaimu, Bang.”
    “Abang juga, Dek.”
    “Adek minta sama abang, tolong jangan pernah selingkuh dari adek.”
    “Hahahaha.”
    “Kenapa tertawa, Bang? Apa yang lucu?”
    “Bukankah saat ini statusmu adalah selingkuhanku?”
    “Yah, maksudku jangan punya hubungan dengan yang lain lagi. Cukuplah adek dan si Kakak buat Abang.”
    “Baiklah, Dek.”

 

Kurangkul kekasihku yang imut dan berwajah lembut dengan mesra. Di benakku bermain kata-kata : if i can cheat her for you, why can’t i cheat you for him?

 

[Cerita Pendek] Cintaku Selamanya 2

selamanya

sumber

Dian membuka matanya perlahan. Cahaya lampu di atas kepalanya terasa begitu menyilaukan. Segera ia tutup matanya sambil berusaha mengingat-ingat, sedang di mana dia sekarang. Dian berusaha bangkit dari ranjang, tetapi sakit yang teramat nyeri memaksanya tidur kembali. Sakit itu berasal dari pinggangnya, begitu menusuk. Ia raba pinggang sebelah kanan, ada perban besar membalut sekujur pinggangnya. Dian mengaduh pelan. Matanya menyusuri sekeliling ruangan kosong. Di mana ini?

Lalu sedikit demi sedikit, sebuah ingatan datang. Hal terakhir yang ia ingat adalah ia sedang berada di depan makam Reza, lalu suara gemerisik yang datang tiba-tiba,  nyeri hebat yang seketika menghantam kepalanya, disusul rasa sakit di pinggang, sesuatu yang mengalir membasahi kemejanya, kelebatan orang-orang yang berteriak, lalu…ia tak ingat lagi.

“Aduh..”

Usahanya untuk mengingat ternyata membuat rasa sakit itu datang lagi. Dian memejamkan matanya. Kenangan tentang Reza berkelebat seperti slide film, frame demi frame silih berganti. Cerita bahagia, duka, pertengkaran, ketakutan, perasaan putus asa. Semua mengaduk perasaan. Tak terasa matanya membasah.

Terdengar suara pintu dibuka, dan langkah kaki mendekat. Harum bunga menyerbak dari tubuh orang yang baru datang itu. Dian membuka matanya. Seorang perempuan muda membawa nampan berisi obat sedang berdiri di sampingnya. Dengan cekatan perempuan itu memeriksa infus di tangan kiri Dian. Dian bahkan tak menyadari ada infus di tangannya.

“Suster…”

Perempuan itu menoleh. Senyum manis mengembang dari bibirnya yang penuh, dengan sapuan tipis pemerah bibir.

“Selamat pagi, Mas Dian. Sudah bangun?” Lanjutkan membaca “[Cerita Pendek] Cintaku Selamanya 2”

[Cerita Pendek] Cintaku Selamanya

selamanya

sumber

Ruangan bercat biru muda itu lengang. Bukan karena tak ada siapa-siapa di dalamnya, tapi karena empat orang lain yang ada di situ memilih diam, seolah enggan mengeluarkan suara. Terlalu dalam kesedihan yang mengambang di dalam kamar. Pandangan mereka semua tertuju pada satu titik; Ranjang. Di atas kasur berbalut seprai biru, sesosok tubuh kurus terbaring tak berdaya. Wajah yang tirus itu nampak menahan sakit. Matanya menerawang, sesekali menatap ke arah orang-orang yang berkumpul di sekitarnya. Ada Papa, Mama, Tante dan Eyang.

“Ma…”

Suara yang keluar tak lebih dari sebuah bisikan. Seorang perempuan separuh baya bergegas menghampiri. Ia raih tangan kiri anaknya yang bebas dari infus, menggenggamnya erat, seolah ingin memberi kekuatan.

“Iya, Sayang. Mama di sini. Apa yang kamu rasakan, Dian?

“Aku ingin ketemu Reza. Aku….”

Dian menghentikan kalimatnya, menggigit bibir. Entah menahan sakit atau perasaan. Sebutir air mata mengalir ke pipinya.

“Dian… Mama…enggak berani menentang Papa.”

Mama menggeleng sedih, mengalihkan pandangan dari mata Dian yang kian basah ke arah seorang lelaki yang tetap terlihat gagah meski uban mulai memenuhi kepalanya. Lelaki itu sedang menunduk.

“Ma..tolong aku. Aku sebentar lagi mati. Aku enggak mau mati penasaran.”

Susah payah Dian menyelesaikan kalimatnya. Mama kini mulai terisak, tak sanggup menjawab. Mendengar isak istrinya, lelaki tadi mendongak. Lalu beranjak ke arah ranjang. Melihat suaminya, Mama melepaskan genggaman tangannya, lalu berjalan ke arah suaminya, mengajak bicara.

“Pa, kita harus bicara. Ini demi Dian.”

Lelaki itu memberi isyarat ke arah pintu. Mama bergegas keluar.

“Pa, kita harus izinkan Dian ketemu Reza, Pa. Waktu Dian mungkin tidak lama lagi.”

Wajah lelaki itu mengeras. Rahangnya menegang, terbayang keteguhan hatinya.

“Tidak! Aku tak akan izinkan. Mama, apa kamu tidak bisa melihat seperti apa hubungan mereka? Hubungan mereka terlarang, Ma! Jangankan aku, Tuhan pun akan marah!” Lanjutkan membaca “[Cerita Pendek] Cintaku Selamanya”