Sakura Gugur di Hati Safira

pohon-bunga-sakura-di-taman

sumber

Kuntum sakura luruh satu-satu. Tersemat di tangkai atau terhampar di tanah, bunga itu tetap saja indah. Ditingkahi semilir hangat angin musim semi di awal April, sore ini adalah sore yang sempurna. Tapi  wajah Safira disaput mendung. Sakura yang baru pertama kali ia lihat tak sanggup mengusir murung. Dafa yang berjalan di sebelahnya melirik sekilas.

“Senyum dong, Fira. Nikmati dulu keindahan Taman Ueno,” tegurnya. “Nanti kita susul teman-teman di Ginza.”

“Gara-gara kamu kelamaan foto-foto di Yushima Tenjin Shrine,” gerutu Safira. Bukan karena itu! tolak hati kecilnya.

“Lihat sisi baiknya. Kita bisa jalan berdua aja, kan? Di tengah lautan sakura, pula. Romantis!” Dafa berseru kecil, lalu terbahak.

Safira menelan bahagia yang sempat mekar di dada. Dia menyadari Dafa hanya bercanda.

“Hei, kau lelah? Duduk,  yuk!” ajak Dafa saat melihat wajah muram Safira.

Safira mengangguk. Mereka duduk diam di bangku taman. Keduanya hanya melemparkan pandangan pada pasangan-pasangan yang tengah melakukan hanami. Bersama orang-orang dekat, semua terlihat bahagia.

“Fira.”

“Ya?”

“Kau diam sekali?”

“Aku?”

Dafa mengangguk. “Aku merasakannya sejak tadi malam. Sejak aku membuat pengakuan padamu.”

Lanjutkan membaca “Sakura Gugur di Hati Safira”