[Berani Cerita #30] Pertemuan Senja Itu

peron

Lengking peluit kereta api memecah keheningan senja. Sejenak tadi azan maghrib berkumandang memenuhi udara seisi stasiun besar kota Medan. Seorang lelaki setengah baya duduk di bangku peron sambil mengamati sekeliling. Aku memerhatikan dari bangku panjang di sebelahnya sambil pura-pura membereskan peralatan semir.

Lelaki itu ternyata menyadari keberadaanku. Dia menoleh dan menatapku lama sekali.

“Semir, Pak?” Aku nyengir salah tingkah.

Lelaki itu melambai. “Kemari.”

Aku menurut. Sekarang kami duduk bersebelahan.

“Siapa namamu?” tanyanya ramah.

“Leo, Pak.”

“Umur?” Suaranya hangat, kebapakan. Aku merasa nyaman.

Aku mengedikkan bahu. “Dua belas, mungkin”

“Keluargamu?”

“Kata orang lima tahun lalu aku nyaris tertabrak kereta api. Saat terjatuh, kepalaku kena batu. Jadi lupa semuanya.” Kusibakkan poni yang menutupi dahi, memperlihatkan bekas luka di sana. Lelaki itu tampak terkejut. Aku hanya tersenyum.

“Bapak namanya siapa?” Kuberanikan diri bertanya.

“Martin Simbolon. Panggil saja Pak Martin.”

“Ooo..”

“Istriku meninggal di sini.”

Aku tersentak kaget. “Astaga!” Lanjutkan membaca “[Berani Cerita #30] Pertemuan Senja Itu”

[Berani Cerita #26] Kejutan di Dalam Gudang

gudang

“Rattyyy! Kau di manaaa?”

Itu suara Micel. Dia pasti sedang kebingungan mencariku. Hihihihi, biarkan saja. Permainan petak umpet ini sungguh menyenangkan. Kami sedang bermain di sebuah rumah besar yang tak terawat. Bukan, ini bukan rumah tak berpenghuni. Hanya saja, seperti kataku tadi, tak terawat. Bagian terasnya dipenuhi dedaunan kering, ruang tamu diselimuti debu, dapurnya berantakan. Hanya bagian gudang yang tampaknya lebih rapi meski disesaki barang bekas.

Di sinilah aku sekarang. Gudang. Pintu ruangan berukuran sekira 6 x 7 meter ini sebenarnya terkunci rapat. Tapi tidak dengan jendela kecil di sebelahnya. Tubuh mungilku dapat dengan leluasa menyelinap masuk. Ketika sudah berada di dalam, aku terperangah. Sepertinya ini bukan sembarang gudang. Di dalamnya kulihat puluhan kanvas dengan lukisan indah terpasang. Meski dengan penerangan minim, mataku masih bisa menangkap keindahan mereka. Aku terus berjalan menjelajah ruangan luas ini. Di sudut kananku tergeletak beberapa kardus berwarna putih. Aku tergelitik untuk menelisik.

“Wah! Kristal!”

Di dalam salah satu kotak kutemukan sebuah hiasan berbentuk angsa yang sangat anggun terbuat dari jalinan kristal indah. Apa ini yang mereka sebut Swarovski? Ternyata benar-benar indah! Meski aku masih ingin mengetahui isi kardus lain, rasa ingin tahu telah membimbing langkahku beranjak lebih jauh ke dalam gudang. Hidungku mengendus. Ada bau-bauan aneh menguar dari bagian dalam. Pelan-pelan aku mendekat ke sumber bau.

“Wah!” Lanjutkan membaca “[Berani Cerita #26] Kejutan di Dalam Gudang”